Torehan Luka

cerita fiksi tragis

Torehan luka merupakan cerita fiksi tragis tentang seorang gadis yang diperkosa ayah tirinya hingga nyaris bunuh diri namun akhirnya bangkit dan sukses namun tetap tidak bisa memaafkan ibunya karena tidak membelanya bahkan mengusirnya dari rumah. Bagaimana akhir ceritanya ? simak pada cerpen berikut.

Cerita Fiksi Tragis – Torehan Luka

Sudah hampir 20 tahun ketika aku akhirnya menjejakkan kakiku di kota ini. Seribu kenangan pahit langsung menerpa bagai angin berhembus kencang. Kuhirup udara segar dengan aroma kota tak terlupakan. Kembali tapi bukan untuk pulang. Besok pernikahan adik bungsuku sementara dia tak berhenti merengek memohon padaku agar datang menghadiri pernikahannya. Aku datang menepati janji, mencoba berbesar hati serta mengihklaskan semua telah berlalu. Tapi tetap saja bayangan kepahitan menyeruak keluar dalam benak tanpa bisa kutahan.

Kota ini bagiku adalah kuburan untuk semua kenangan dan kedatanganku hanya untuk sekedar berziarah. Jika boleh memilih, hatiku sama sekali tak ingin pulang, bahkan sudah lama menganggap rumah itu bukan rumahku lagi. Rumah dimana tersimpan kenangan masa kecil tempat ku menemukan cinta lalu kehilangan arti dari cinta itu sendiri.

Butuh waktu untuk menginjakkan kaki di tanah kenangan, hatiku harus berdamai dengan nuraniku saat memutuskan untuk kembali kesini. Karena disini aku akan bertemu dengan orang-orang penancap luka dihati dan tubuhku dengan begitu dalam. Orang-orang yang sebenarnya harus kukasihi tapi akhirnya menjadi sangat kubenci. Satu-satunya orang dekat denganku adalah adik bungsuku yang akan menikah besok.

Saat meninggalkan kota ini dirinya masih berumur 6 tahun. Ayahku meninggal saat usiaku 3 tahun. Lalu ibu menikah lagi saat aku berumur 8 tahun dengan seorang laki-laki pekerja pabrik tempatnya bekerja. Membesarkan empat anak-anaknya membutuhkan biaya tidak sedikit. Karena itulah ku tahu dia butuh tempat bergantung.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja, laki-laki yang akhirnya kami panggil ayah itu  adalah sosok pendiam tak banyak menuntut. Perlahan namun pasti kami mulai terbiasa hidup dengannya. Hingga suatu waktu saat diriku baru saja lulus SMP pria kupanggil ayah tersebut memperkosaku. Diri ini lemah tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa dibawah ancaman, bahkan menjadi budak seksnya hingga waktu lama.

Disaat batinku meronta tak tahan lagi, aku menangis mengeluhkan semua perbuatan ayah tiriku pada ibuku. Tapi apa kudapat ?. Bukannya melaporkan lelaki biadab tersebut kekantor polisi, ibu malah mengurungku dirumah lalu tak mengijinkanku melanjutkan sekolah. Hingga semakin membuat ayah tiriku merajalela. Hampir setahun diriku disiksa, terus dijadikan pelampiasan nafsu keji ayah tiri. Ketika suatu hari ibu memergoki perbuatan suaminya. Bukannya mengusir laki-laki tersebut malah dia memukulku tanpa henti kemudian mengusirku. Mungkin baginya diriku adalah ancaman dalam rumah tangganya.

Kepedihan seperti apa ku rasakan saat itu mungkin tak akan bisa dibayangkan. Diriku hanyalah remaja berusia 14 tahun tidak tahu apa-apa. Bukan cuma harga diri terkoyak tapi hati juga batinku begitu terluka. Diriku sudah cukup teraniaya dengan menjadi budak seks ayah tiriku, tapi luka ditorehkan ibuku melebihi segala-galanya serta mencoreng sebuah sebutan yang diagung-agungkan dalam otakku ” Ibu”.

Ibu kandungku menancapkan pisau begitu tajam langsung kejantungku. Luka mendera tubuhku mungkin tak seberapa dibandingkan luka yang ditorehkan ibuku, ibu kandungku. Perempuan yang begitu ku sayangi sekaligus ku hormati, yang susah payah melahirkan ku kedunia justru menghianatiku.

Ibu mengapa ? Aku bahkan tidak menggunakan alas kaki saat pergi dari rumahku. Diriku berjalan tanpa tujuan seperti orang gila karena terluka sambil bertanya-tanya ‘’Ibu kenapa ?”.  Diriku bahkan nyaris bunuh diri pada sebuah jembatan ketika seorang wanita serta anak seumurnya menghalangiku niatku.

Diriku pingsan berhari-hari. Saat sadar, tubuhku berada di sebuah rumah sakit dengan sebuah keputusan sangat sulit. Diriku diminta memilih apakah akan meneruskan kehamilanku atau menggugurkannya. Ternyata aku sedang mengandung 2 bulan. Wanita penolongku ternyata seorang dokter kandungan, anak laki-lakinya lebih tua dua tahun dariku. Proses pemulihan tubuhku memang cepat tapi pemulihan untuk trauma batinku membutuhkan waktu setahun.

Aku dirawat sebuah rumah sakit jiwa karena terkadang masih bermimpi buruk juga suka mengamuk. Tapi Ibu Aida dokter kandungan penolongku dengan penuh kesabaran menjaga serta membimbingku. Diriku sembuh dengan perlahan. Aku mulai bisa tersenyum walau akhirnya diam-diam masih menangis ditempat sepi. Ibu Aida seperti malaikat dalam hidupku. Kesabaran serta ketelatenannya dalam merawatku sungguh mulia. Dia bahkan mengangkatku menjadi anak adopsinya.

Aku tinggal bersama keluarga mereka hampir 6 bulan lamanya ketika akhirnya mereka membawaku ke Jakarta. Pak Gustaf, suami Ibu Aida, adalah seorang perwira tentara yang selalu dipindah tugaskan keluar daerah. Di kota inilah ku jalani hari-hariku dengan kasih sayang berlimpah dari Ibu Aida, suaminya serta anak lelakinya yang sudah menganggapku adik kandungnya. Kasih sayang mereka mampu menyembuhkan batinku. Tapi tidak dengan dendam serta kebencianku.

Seandainya Ibuku seperti Ibu Aida ?. Kenapa diriku harus merasakan kasih sayang dari orang bukan ibu kandungku ?. Walaupun agak terlambat setahun, tapi diriku bisa menamatkan sekolah SMA  dengan nilai gemilang. Aku bahkan mendapatkan beasiswa masuk universitas negeri dengan mudah bahkan bebas memilih jurusan kuinginkan. Jurusan kupilih adalah psikologi, sengaja kupilih jurusan ini untuk lebih mengenal prilaku serta fungsi mental manusia secara umum. Dua tahun kuliah ketika akhirnya diriku mengikuti program lintas kampus diadakan atas kerjasama universitas Indonesia dengan university of foreigners of Perugia Italia. Selama dua tahun diriku menetap di negeri pasta lalu kembali dengan gelar S1 summa cum laude. Tentu saja ini merupakan kebanggaan tersendiri, bukan cuma untukku tapi untuk keluarga yang sudah mendidikku dengan penuh kasih sayang.

Setelah magang pada sebuah rumah sakit swasta, ku lanjutkan studi S2 masih pada universitas sama. Setelah lulus diriku diterima sebagai pegawai tetap di sebuah rumah sakit swasta cukup bonafide di Jakarta.

Sesekali aku mengisi waktu sebagai dosen pengganti di sebuah universitas. Aku pernah berjanji untuk tidak akan pernah kembali ke kota asal. Tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya diriku kembali. Dan disinilah diriku sekarang, rasanya seperti baru kemarin kutinggalkan kota ini. Peristiwa menyakitkan masih saja begitu lekat dalam pikirku. Kupejamkan mata menuju taksi yang langsung membawa pergi ke alamat kusebutkan.

Dari seberang jalan, dibalik kaca jendela taksi mataku hanya bisa memandang keramaian di sebuah rumah dengan halaman luas. Dua batang pohon cukup besar menaungi rumah tersebut hingga terlihat teduh. Dulu saat meninggalkan rumah, pohon itu masih sebatas pinggangku.  Tapi sekarang mereka bahkan menjadi bukti kalau hidup terus berjalan disana. Tidak ada yang berubah dalam rumah itu, bahkan catnya masih sama, bentuknyapun tidak direnovasi, yang berubah mungkin cuma tambahan hiasan janur kuning ditata sedemikian rupa tersebar di depan rumah, sebagai tanda kalau ada acara nikahan dalam rumah tersebut.

Aku hanya dekat dengan Ibram sedangkan dengan kedua adik laki-lakiku lainnya tidak ! mereka  memusuhi bahkan mengancamku agar jangan pernah kembali kerumah. Bahkan tak jarang mereka mengirim SMS penuh kemarahan juga makian. Mungkin karena diriku menolak pulang saat ibu masuk rumah sakit atau pada saat ayah tiriku meninggal 3 tahun lalu. Mereka tidak pernah tahu tentang apa telah terjadi dalam rumah itu. Karena aku tidak pernah akan bisa menceritakan kisah tragis pada mereka. Akupun tidak bisa membenci mereka sama seperti mereka membenciku.

“Gak turun Bu ?”.

“Gak pak antarkan saya  ke hotel Ibis saja,” jawabku lalu kembali menyandarkan kepalaku pada jok mobil. Diriku belum bisa menjejakkan langkah ke dalam rumah itu. Bahkan tadipun aku berusaha menahan tangisku untuk tidak pecah apalagi saat melihat sebuah kursi roda yang diatasnya ada sosok ibuku. Salahkah jika selama ini aku tidak pernah merindukan wanita itu ? salahkah jika selama ini aku menganggapnya tidak pernah ada dalam hidupku. Tapi raga dan sukma ini terlahir dari rahim wanita itu. Durhakakah aku jika sampai saat ini belum bisa memaafkannya ?.

Saat menunggu untuk diantarkan ke kamar diriku duduk di lobby, kukirimkan pesan singkat pada adikku untuk menemuiku jam 7 malam di hotel. Tepat jam 7 bel dipintu kamar berbunyi. Saat pintu terbuka sosok Ibram adik bungsuku langsung menyeruak dalam pelukanku. Aku mendekapnya erat tak sadar airmataku berlinangan. Kuhapus airmata dan menatap sosok adik yang 20 tahun tak pernah kulihat ini.

“Ibram kamu sudah menjadi laki-laki tampan,” seruku tersenyum.

“Terimakasih kak terimakasih sudah mengabulkan permohonanku.”

“Maafkan kakak Ibram, kakak tak bisa pulang kerumah.”

Ibram menatapku sendu dibalik matanya yang berkaca-kaca terlihat sekali dirinya sedang menahan airmatanya untuk tidak jatuh, tapi tetes-tetes bening itupun kemudian jatuh tanpa dapat ditahannya. Akhirnya dia menangis tersedu.

“Maafkan Ibram kak, maafkan Ibram kak, sudah begitu egois memaksa kakak kembali. Padahal Ibram tahu semua hanya akan membuat kakak terluka lagi. Maafkan Ibram Kak karena Ibram tak bisa berbuat apa-apa waktu itu. ”

Diriku terisak, kuusap kepala Ibram lembut, yah Ibram hanya bisa menatap kejadian dipojok ruangan sambil menangis. Dia hanya bisa duduk berjongkok menutup kedua telinganya di pojok. Dialah saksi hidup nyata dari penistaaanku. Air mata tak berhenti menetes begitu juga Ibram.

Setelah agak tenang dan tangis kami sudah mereda Ibram meraih tanganku dan menggenggamnya erat.

“Tidak apa-apa kakak tidak menghadiri pernikahanku besok, hatiku sudah cukup puas melihat kakak sekarang. Restu kakak sudah cukup bagiku. Sekarang kakak harus hidup dengan tenang Ibram akan menjaga ibu. Jangan kuatirkan keadaan ibu….”.

Ku coba tersenyum walaupun tahu itu senyum yang buruk, ternyata diriku tak cukup kuat untuk bertahan dalam sedihku. Kebencian juga rinduku pada sosok ibu membuatku tidak mampu untuk menahan pedih di hatiku. Hatiku masih penuh luka, aku belum sembuh.

“Ini hadiah pernikahan untukmu Ib, terima yah. Ini ada sedikit tambahan untuk biaya berobat ibu. Dan ini oleh-oleh untuk kakak-kakakmu. Ini hadiah untuk adik iparku yang cantik. Jika kamu cuti sempatkan ke Jakarta yah, ajak istrimu. ‘’

“Iya itu pasti Kak, Ibram pasti akan menemui kakak. Maafkan ibu kak, maafkan kami…”

Ku peluk Ibram sekali lagi, lalu menepuk bahunya lembut, “jangan cengeng kamu tidak akan bisa melindungi istrimu kalau cengeng”.

Pertemuan dengan Ibram malam itu memaksaku untuk kembali ke Jakarta keesokkan harinya. Hatiku belum mampu untuk menghadapi lukaku. Aku belum bisa memaafkan ibu, entah butuh berapa lama waktu untuk mengikis kebencian ini. Saat pesawat lepas landas bayangan kota asalku pun hilang di balik awan. Aku hanyalah manusia biasa penuh dengan kekurangan. Mungkin berdosa dengan membenci ibu kandungku, dan butuh waktu lama untuk belajar tentang arti sebuah keihklasan.

Saat ini diriku belum bisa mengihklaskan semua kepedihan serta penderitaan pernah kualami. Tapi besok atau lusa atau besoknya lagi mungkin akan bisa memaafkannya. Sementara itu aku akan terus belajar dan terus belajar ihklas sambil memohon ampun pada yang Kuasa untuk melapangkan dadaku dari rasa benci serta dendam sambil memohon ampun atas segala dosa-dosaku dan dosa ibuku.


Terima kasih telah membaca cerita fiksi tragis diperkosa ayah tiri Bisfren. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait