Misteri Tragedi Asoy Terbang

cerpen misteri tragedi asoy terbang

Cerita pendek atau cerpen misteri Asoy Terbang berkisah tentang kantong plastik tempat sampah yang di kota Padang dikenal dengan istilah Asoy Terbang. Masalah Asoy Terbang ini sempat menjadi perhatian pemerintah, namun ditangan seorang penulis, istilah Asoy Terbang bisa menjadi cerpen misteri layak disimak. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen berikut.

Tragedi Asoy Terbang

Kematian itu menyisakan banyak dugaan. Orang-orang mulai menerawang jauh pada peristiwa-peristiwa pernah terjadi di masa lampau. Wanita meregang nyawanya itu membuat suasana kampung Giriak terasa sunyi. Jika pun ada kegiatan warga satu atau dua orang, palingan itu sekedar buang air besar yang sangat mengujung. Di tepi sungai, air mengalir tenang pun ikut merasakan kesunyian kampung. Wanita yang meninggal dengan cara tidak wajar itu benar-benar meninggalkan banyak ketakutan. Semua kegiatan warga yang dilakukan pada malam hari terpaksa dihentikan untuk beberapa hari kedepan, karena para tetua kampung takut hal-hal tidak diinginkan terjadi. Seperti dua tahun silam, saat seorang wanita juga mati dengan cara sama dengan wanita yang dua hari kemarin meregang nyawa. Persis sama dengan kejadian dua tahun silam itu.

Sudah seminggu berlalu. Awan-awan hitam pekat sering bertandang ke kampung. Mengerumuni rumah-rumah warga dengan kerisauan. Kentara membuat sikap—sifat warga kampung berubah dingin satu sama lain. Takut bercerita tentang kematian wanita itu dan pura-pura lupa bahwa sedang ada ketakutan menyelimuti kampung. Malahan mereka benar-benar tidak ingin mengetahui kenapa wanita itu meninggal dengan cara begitu menakutkan untuk dikenang. Keluarganya pun bertingkah demikian, padahal wanita itu meninggal secara tidak lazim. Sebelum ia meninggal dengan bentuk aneh, paginya masih mencuci di sungai. Dan setelah Magrib terdengar suara tangisan dari wanita itu. Ia merintih kesakitan, seperti sedang diancam penyakit mematikan, atau semacam mendapat ancaman dari seseorang; perampok atau mungkin lelaki yang ingin memperkosanya dengan cara kasar (baca juga cerita misteri ilmu santet melembekkan batok kepala dari Sulawesi Selatan).

Aku duduk bermenung di serambi, lelah menyergap tubuh setelah selesai menggarap lahan di belakang rumah. Tanah yang sekian lama hanya tempat “asoy terbang” berkumpul. Asoy yang setiap malam mendatangi lahan itu berasal dari rumah-rumah di sebelah tanah milikku. Aku tidak sanggup memberikan sangsi akan hal-hal tersebut, karena mereka membuang sampah apabila aku sedang tidak berada di sana. Aku menyadari, mereka tidak memiliki toilet akan memilih cara tersebut. Ada juga cara lain mereka lakukan. Seperti seekor anjing kebelet buang air besar. Aku menyaksikan itu ketika sepulang dari rumah seorang teman. Aku sengaja lewat belakang, sekalian berharap menemukan kejadian yang selama ini diterka-terka. Dan rupanya benar, terlihat seorang ibu-ibu sibuk menggali tanah belakang rumahku itu untuk tempat ia membuang makan malamnya. Terang saja tanganku bereaksi mengambil sebutir batu dan langsung melemparinya. Ia kaget lalu mengeluarkan kata kasar memaki. Aku tetap bersembunyi, kalau ia melihat keberadaanku di sana, tentu akan menjadi masalah.

– Cerpen Misteri Asoy Terbang –

Aku masih mematung melihat lahan yang sudah seminggu aku garap, akhirnya bersih dari semak-semak dimana bergelayut asoy-asoy dengan bau menyengat. Tentu dengan banyak ragam bau anyir. Tiada dapat dijelaskan bau apa saja ada di sana. Benar-benar kewalahan membuat hidungku tetap bernapas dengan benar. Tiba-tiba suara tangis serta rintih menyelinap masuk ke telinga. Benakku berpikir itu hanya tangisan seorang anak akibat dimarahi ibunya karena tidak pergi mengaji. Atau rintihan ibu akibat tangannya teriris pisau ketika memotong bawang. Ah… aku pikir itu tidak perlu dijadikan masalah, sebab setiap aku duduk di serambi belakang, selalu terdengar tangisan itu. Tidak lama kemudian tangisan itu semakin menjadi. Seakan sebuah siksaan tak dapat ditawar lagi. sontak hatiku menjadi takut serta penasaran. “Tangisan siapakah itu, begitu merintih sekali?” Tanyaku dalam lelah yang hampir pergi dan keringat mulai kering (jangan lewatkan cerita misteri Desta siluman serigala).

Rupanya suara itu terdengar tidak jauh. Aku juga mulai menimbang-nimbang. Apakah suara itu tidak keluar dari setan, atau biasa disebut orang kampung anak kaneak. Setan yang menangis saat malam datang. Seperti tangis siksaan tak kunjung selesai. Tapi, jikapun itu tangisan setan, siapa juga yang mati dengan rahim dalam perutnya. Karena suara tangisan anak kaneak adalah jelmaan dari rahim belum keluar ketika ibunya meninggal dunia. Dan ia ikut bersama jasad ibunya terkubur. Hatiku semakin penasaran, suara lirih merintih benar membuktikan sebuah siksaan sangat halus, namun menyakitkan. Aku merasa itu bukan urusanku tapi urusan orang lain. Keringat mengering bukan karena angin segar, melainkan karena sebuah ketakutan sedang menyerang. Kemudian suara derik langkah kaki mengarah padaku yang sedang melihat ke segala arah rumah-rumah yang ada di belakang rumahku. “Woi…cepat mandi. Bau badanmu hampir sama dengan bau asoy terbang.” Sebut kakak perempuanku sambil sengaja mengejutkanku dengan nada tiba-tiba. “Wee ee… kau benar berhasil membuat jatungku berdetak kencang. Bukan karena terkejut, tapi karena takutku semakin menjadi.”

Sudah sehari berlalu setelah kejadian suara terdengar di serambi belakang rumah. Semuanya tampak seperti biasa. Lahan sudah selesai aku garap, mulai ditanami berbagai macam sayuran oleh ibu. Mulai dari kacang panjang, kangkung, dan sayuran lainnya. Meski masih ada beberapa asoy terbang menyangkut pada dahan-dahan pohon pisang, ibu tidak terlalu memikirkan itu. Sebab ibu bukan tipe orang yang memusingkan banyak hal diluar kendalinya. Ibu hanya menanyakan itu padaku, “kenapa masih ada asoy-asoy bergelayut di dahan-dahan pohon pisang ?” Tanya ibu sambil menaruh bibit sayuran dalam ember. Tentu saja hatiku terkejut, karena sudah seminggu diriku membersihkan asoy-asoy tersebut. Mulai dari tanah sampai yang bergelayut di dahan-dahan pohon; mangga, pisang, kuini. “Kemarin sudah ku bersihkan, Bu. Kenapa masih ada ?” Jawabku. “Bagaimana baunya, Bu ? Masih anyir atau sudah bercampur?” Sambungku. Ibu meninggalkan diriku yang bertanya dengan senyum kecil, “kamu lihat dan cium saja sendiri.” Jawab ibu (waspadalah bila membaca cerita misteri ketukan tengah malam).

Senja mulai pulang pada palung laut. Bayang-bayang pohon di tepian sungai menghilang bersama kelam. Aku bergegas menuju tepian sungai masih menyisakan beberapa pemuda yang sibuk menggosok kakinya dengan batu. Aku mencari tepian mandi tidak jauh dari pemuda yang masih di sungai, agar tidak terlalu takut saat sesuatu bergerak di tengah sungai atau suara derik ular dari semak-semak keladi. Baru sebentar saja kakiku menyentuh batu sungai, terdengar suara tangis tidak jauh beda dengan suara tangis kemarin ku dengar di serambi belakang rumah. Suara itu semakin terasa dekat. Datanglah rasa takut membuatku menciptakan modus kecil untuk sekedar pindah tepian mandi. Dengan cepat diriku menuju tepian pemuda itu dan bertanya gundar atau sikat pakaian. “Aku saja memakai batu untuk menyikat kaki.” Sebutnya singkat sambil terus mengusap tubuh dilumuri busa. Aku berhasil, dengan tenang ku basuh tubuh, lalu mandi. Aku harus terus memerhatikan pemuda itu. Jika ia selesai mandi, maka aku harus selesai juga mandi. Jika tidak, akan berjalan sendiri pulang ke rumah dengan banyak ketakutan hadir dalam otak. Suara rintihan tadi seakan menghilang ditelan gemericik air membentur batang-batang pohon mati tengah sungai (harus baca cerpen misteri santet lada hitam).

***

Pagi menyulam benang-benang bergerai emas di langit biru memenjarakan cahaya mentari. Embun mengeluh, kenapa hujan datang begitu dini, sampai ia harus bersetubuh dengan hujan deras disertai badai. Padahal embun adalah lambang kesejukkan pagi, kalau sudah bercampur dengan rintik hujan, maka embun harus menerima makian dari mereka karena terhalang akibat hujan di pagi hari (hati – hati dengan cerita misteri susuk kelabang merah).

Dari sudut remang rinai tak kunjung reda, ada bayangan absurd berjalan menuju tanah belakang rumah. Dari celah dinding dapur, mataku mengintip tenang. Melihat sosok siapakah sedang berjalan di tengah riuhnya rinai menghujam tanah. Ia menggendong sebuah bedungan. Tidak mungkin itu bayi atau makanan baru siap dimasak, sebab hari hujan deras. Hati bertanya-tanya, apa sebenarnya dilakukan wanita itu di tengah rinai deras. Aku begitu yakin itu adalah wanita. Jelas terlihat dari rambutnya yang tergerai. Bajunya basah kuyup oleh rinai melihatkan lekuk tubuh seorang wanita. Hatiku benar-benar dibuat penasaran, namun tidak berani menelisik lebih jauh lagi. Pagi itu ku kira belum ada warga memasak, karena tidak ada bau bawang goreng atau jengkol panggang. Mataku terus menerawang langkah kecilnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Tidak lama berselang, wanita itu menghilang di antara semak-semak ilalang di sebelah lahan baru selesai ditanami ibu sayuran. Hujan terus dikelilingi angin-angin, langit kelam, awan-awan beranjak, menyatu menjadi gumpalan air. Hatiku merasa ada suatu petaka akan segera datang, telinga kiriku mengiang.

Hatiku diselimuti penasaran hebat. Ingin sekali rasanya mengintip ke mana wanita itu pergi, apa sedang dia gendong dengan bedung kain itu. Pikirku melayang sampai kepada tangisan dua hari ini ku dengar. Mengiang seperti bedil yang pelurunya melesat di tepi kelopak telinga. Ada takut dan penasaran bercampur menjadi risau. Andaikan sewaktu-waktu tangisan itu juga datang pada tidur malam. Mengerikan sekali, tangisan seorang wanita sambil mengendong bayi dengan darah berceceran, bersama ibu berambut panjang dipenuhi tanah kuburan. Aku tidak akan mampu menerima itu meski dalam mimpi (baca tulisan cerpen misteri Tragedi susuk kelabang merah).

Itu adalah pagi yang suram selama hidupku, tidak ada kegiatan warga. Air-air menggenang di lubang-lubang kecil jalan. Parit-parit membawa sampah-sampah plastik dan kayu-kayu lapuk. Setelah hujan benar-benar reda. Aku duduk di beranda rumah, bapak-bapak membawa cangkul berjalan menuju sawah, ibu-ibu penjual es yang terbuat dari pewarna daun pandan pulang dengan murung, sepanjang jalan pulang ia masih berharap ada orang akan membeli jajanannya. Ia terus meneriaki jualannya sambil melihat ke depan rumah warga. Ingin rasanya membeli jualan ibu tersebut, tapi karena hari baru saja hujan, diriku takut flu menyerang hidung.

Lolongan anjing, kotek ayam, dan … rintihan seorang perempuan di tengah malam

cerita misteri wanita di tengah hujan
Misteri perempuan berjalan menembus hujan di tengah malam (@ wallpaperxl.com)

Sampai pada malam hening. Suara tik tak tik tak jarum jam saling bekejaran antara jarum pendek dan panjang. Waktu membuktikan bahwa dinihari sebentar lagi datang. Suara-suara lolongan anjing terdengar jelas di luar rumah. Jangkrik berdendang dengan katak-katak bersuara ketok. Hening, sesekali hanya desiran angin  menyiang dedaunan melambai. Lampu ruang tengah sudah dimatikan, diganti dengan lampung corong. Remang memancar ke sela-sela dinding kamarku. Aku masih berpikir banyak kejadian akhir-akhir ini, selain berpikir ingin mendapatkan bibit sayuran unggul untuk ibu, karena beliau mengeluh bibit yang ditanam ikut hanyut bersama hujan, benakku juga memikirkan suara wanita menangis dan seorang wanita berjalan di tengah derasnya hujan.

Tiba-tiba suara gonggongan anjing dan lolongannya terdengar kejut. Ayam-ayam berkotek riuh. seperti menyuarakan bahwa sedang ada ancaman atau suatu gerakkan sehingga membuat mereka terancam. Kejut sangat hebat, sampai beberapa jam berlangsung. Diriku masih mengurung diri. Takut mulai datang, suara tangisan itu seperti sedang mempermainkan anganku yang kacau karena lelah sering bertandang. Malam itu tidak terdengar suara rintihan tangis siapapun. Namun setelah hewan-hewan heboh dengan berontaknya, sontak hatiku merasa ketakutan sengit. Sampai lubang telinga kusumbat dengan kapas bantal (baca tulisan cerpen misteri Susuk kelabang merah).

Samar-samar terdengar suara teriakkan, suara tangisan riuh dan hilang—timbul bagai suara parau penjual es pagi hari yang terus berjalan menjajakan jualannya. Keringat dinginku menguyup sebatang badan. Lelah membuatku tertidur sampai pagi hening. Benar-benar hening. Rupanya sudah tidak ada siapapun di rumah. Kulihat di luar juga hening, tiada aktivitas apapun. Selain kendaraan satu dua tiga hilir mudik menuju arah pasar. Dan terakhir yang kukenali dari pengendara motor adalah ayah, memboncengi ibu dengan luka-luka di bagian tangannya yang terjuntai. Tubuhnya dipeluk erat dari belakang oleh kakak. Aku terpaku, mematung di antara pagi dan heningnya.

Terlihat bercak darah mengotori jalan. Sepasang bola mata sedang menatapku dari tepi jalan. Menodongkan pandangan tajam lalu meninggalkanku dengan senyuman kecil, namun terkesan menyindir atau seolah-olah menyatakan bahwa ada suatu kejadian membuatku terkejut. Aku begitu kejut, tanpa meneriaki perempuan itu untuk bertanya, apakah yang lewat dengan motor dari benar keluargaku.

Tiba-tiba terasa ada kunang-kunang mengitari kedua mataku. Aku merasa sempoyongan. Kepalaku terasa berputar mengelilingi gelapnya dunia. Lalu terdengar suara tangisan ibu dari dapur. Sontak aku bangun lalu mengejar arah suara beliau, lalu kutemukan ibu dengan sebilah pisau di tangan kirinya, sementara di tangan kanannya sebongkah bawang merah. Ternyata ibu hanya tergores pisau saat menguliti bawang. Tapi karena ibu takut melihat darah, beliau merintih, sehinggah terdengar olehku seperti orang menangis (simak cerpen misteri Pulau Kutukan).

Untung semua kejadian yang kusaksikan itu hanya mimpi. Beruntung ibu hanya terkena sayatan pisau. Aku merasa sedang ditekan oleh peristiwa belum benar kejadiannya, tapi merasakan takut begitu hebat. Di belantara halaman belakang, kuberanikan diri membersihkan asoy-asoy yang mulai ramai lagi bergelayut di dahan pohon-pohon, meski telah aku tuliskan “jangan membuang sampah di sini. Baik itu sampah rumah tangga atau sampah perut bucit.” Tapi tetap saja masih berdatangan asoy-asoy dengan bau anyir menyengat.

cerita misteri kantong kresek plastik asoy terbang
Kantong plastik asoy terbang

Hari itu adalah puncak dari rasa takut kualami. Setelah pagi mencekam dengan suara tangisan tersedu-sedu, sampai teriakkan histeris dari belakang rumah. Mataku melihat ibu menemukan asoy bergelayut di dahan pohon mangga. Sekantong asoy plastik bewarna hitam tergantung. Seakan membuktikan itu memang sengaja digantung di sana. Ibu melihat tetasan air bewarna merah kehitaman. Seperti darah mati, baunya sangat menyengat. Sampai ibu muntah mencium baunya (baca juga cerpen misteri Bangunan Tua).

Aku mendekap ibu yang ketakutan. Lalu kuantar pulang. Kemudian terdengar lagi suara tangis menyedih, mengiba dengan kata-kata penyesalan dari rumah warga tidak jauh dari halaman belakang rumah. Aku tentu terkejut, apa sebenarnya telah terjadi. Kemudian terdengar kalimat selamat jalan, semoga kau diterima disisi-Nya. Semoga di tempatkan di surga. Aku berlari menuju rumah sedang riuh dengan suara tangis itu. Sesampai di sana ku lihat seorang wanita dibaluti kain bercorak batik, terlihat wajahnya pucat pasi, celananya penuh darah dan kedua tangannya menggaris bercak biru seperti bekas pukulan.

Riuh suara ratapan, penyesalan sampai umpatan serakah. Kaca-kaca pecah, dinding-dinding rumah yang lembab oleh kesedihan membius suasana semakin nelangsa. Aku bermenung, berdiri diantara suara tangis histeris serta orang-orang berbisik tentang kematian wanita itu. Telah kutemukan kenyataan ditengah kerisauan, bagaikan mendapat jawaban atas kejadian terasa aneh ku alami. Aku pulang, dan kulihat asoy tergantung tadi. Mengenaskan, sepasang kaki sepasang tangan dengan bintik-bintik masih memerah tertempel. Bulu-bulu penuh darah menggeliat. Aku kaget bercampur tangis. Itu benar kematian yang tak kutahu penyebabnya.*

Padang, 2016.

Terima kasih telah membaca cerpen misteri tragedi asoy terbang. Jangan lewatkan Cerita Misteri Bisfren lainnya.

Dibagikan

Arif Purnama

Penulis :

Artikel terkait