Tragedi Pulsa

cerpen kehidupan tragedi pulsa

Cerpen kehidupan tentang PSK yang sudah pensiun lalu menjadi induk semang (mucikari) untuk membesarkan anak perempuannya. Suatu ketika anaknya hilang, dicari tidak ketemu, hingga sebulan kemudian dia melihat sebuah nomor pada konter pulsa.

Cerpen Kehidupan Tragedi Pulsa

Di seberang sana ada abang-abang wirausaha jualan pulsa, tak jauh, paling selemparan batu (bukan hasil uji coba). Modal Bang Komar sedikit saja : sebuah etalase lima puluh senti kali satu meter, sebuah kursi (pelanggan biar saja berdiri), ponsel nokia jadul untuk isi ulang pulsa, dan satu ponsel android dibawah sejutaan merk Cina buat update status di facebook (baca : bisnis sampingan modal kecil).

Isi etalase nya juga tak banyak : beberapa kartu perdana dari semua provider (ada nomor cantik juga), sekitar dua puluhan pulsa berbentuk voucher pecahan lima puluh dan seratus ribuan, serta buku catatan tebal tipe memanjang yang isinya halaman-halaman kosong digarisi tepat ditengah (kiri nomor ponsel, kanan nominal pulsa). Itu saja, sederhana.

Bang Komar santai saja duduk di belakang etalase kecilnya itu. Ia pria akhir dua puluhan, berbadan gempal, kulit hitam, janggut dan kumis tipis. Wajah agak sedikit sangar (kata beberapa pelanggan) tapi baik hati dan humoris (pelanggan lama bilang). Tampilan juga tak kalah sederhana dengan etalase terkasih nya itu, cukup baju kaos oblong yang selalu basah oleh peluh dan celana pendek selutut sedikit ketat oleh paha besarnya. Sebagai pelengkap biasanya Bang Komar tak lupa pakai topi converse, dapet murah di pasar barang bekas waktu itu.

Tapi jangan salah. Pelanggan Bang Komar cukup banyak jika dilihat dari terpojok dan kecilnya etalase itu. Mulai dari Mas-mas pulang kerja, Mbak-mbak pergi cari angin, pelajar pulang sekolah, sampai Bos-bos pulang nemenin Mba-mba cari angin. Ibu-ibu juga ada, tapi jarang. Contoh nya siang itu. Bu Astuti muncul begitu saja entah dari mana di depan etalase nya, “Bang, simpati dua puluh ribu dong” mintanya ke Bang Komar yang kaget bukan kepalang tiba-tiba ada emak-emak dandanan menor, bercelanan ketat, berbelahan dada mengundang, minta pulsa. Hampir saja ia terjungkang indah dari kursi plastik merah itu, “Allahu Akbar !” serunya sambil membetulkan posisi duduk. “Eh apa? oh iya bentar Mba..” buru-buru diambilnya Nokia dan menyodorkan buku catatan ke Bu Astuti.

“Kau sajalah yang tulis.. kosong delapan satu tiga..” katanya mengejakan nomor ponsel nya ke Komar. Dengan sikap profesional dan cekatan Komar mengampil pena dan langsung menulis, “..dua puluh ribu ya” ujarnya memastikan. Komar tau siapa yang sedang ia isi kan pulsa nya itu. Bagaimana tidak, Bu Astuti terkenal di sekitaran situ, sebagai “mami nya anak-anak”. Komar boleh cuma lulusan Sekolah Menengah Pertama, tapi ia tidak lah lugu.

“Tang, lu kalo mau praktekin yang lu tonton tuh, nih gue ada nomer nya Mba Astuti” goda Komar suatu sore ke temannya yang sedang fokus nonton film biru dan telinga dicolok earphone, Tatang. “Mana sanggup gue bayarin, goblok. Bos Togar yang duit nya berserakan dimana-mana aja cuma sanggup sekali seminggu.” jawab Tatang tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel 3.5 inci nya itu.

cerita kehidupan pelacur pinggir jalan
PSK di pinggir jalan

Tatang bekerja di toko percetakannya Bos Togar. Bukan sembarangan percetakan, yang satu ini sudah terkenal seantero Jakarta, paling besar di sekitaran Benhil. Bulan Sempurna nama percetakannya itu. Saban sore Tatang pasti mampir ke etalase kecil Komar (tak jauh dari situ) untuk sekedar ngobrol, ngopi, atau numpang duduk nonton porno yang baru saja diunduhnya (numpang wifi toko). Bos Togar sendiri adalah tipikal om-om genit akhir empatpuluhan : buncit perut, juga dompetnya. Sudah rahasia umum di toko ia sering “jajan” sama Astuti, tiap minggu kalau kata Tatang. Tapi pekerja di toko cuma bisa pura-pura tidak tau, daripada kena coret dari daftar pegawai dan balik lagi jadi kuli angkut di pasar becek di ujung jalan sana. Orang sekitaran toko juga banyak yang tau, tapi kebiasaan manusia jaman sekarang yang masa bodoh. “Biar ajalah, toh dia ga ganggu kita, ngapain ngurusin. Urus hidup sendiri aja udah susah” biasa nya itu kalimat yang biasa dan sering diucap. Suatu ketika, Bos Togar tidak lagi jajan di Astuti. Bosan katanya. Ia sekarang lebih suka sama gadis-gadis belia sekolahan. “sudah dapat aku, Tut. Mantep, Masih polos anak sekolahan, gemas aku dibuatnya. Dikasih barang baru dikit, nurut dia” cerita Togar ke Astuti sembari menolak tawaran si mami (baca : cerpen kehidupan Baru putus dapat cowok malah dijadiin selingkuhan).

Astuti sendiri kadang sedih dan kasihan juga dengan para “anak asuh” nya itu.”Tapi kan mereka juga yang datang jauh-jauh dari kampung, trus minta kerjaan ke gue sambil mohon-mohon karena ga ada yang mau nerima yang bahkan sekolah dasar aja ga lulus”, begitu biasanya Astuti bicara pada dirinya sendiri sebagai pembenaran dan menangkis dosa. Ia juga dulu jaman muda punya kerjaan yang sama, bahkan konon katanya, seorang legenda. Siapa tak kenal Rosa, begitu dulu dia dipanggil om-om binal itu. Jangankan bos percetakan, bule India bos perusahaan multi-nasional aja tau Rosa siapa. Cantik memang Astuti kala muda, dengan kulit putih mulus, rambut hitam panjang, mata bulat besar, dan senyum genit menggoda, ditambah badan semok aduhai depan belakang. Terakhir itu yang sebenarnya paling dicari para pelanggan penuh hasrat dan butuh pelampiasan itu.

Pensiun jadi PSK setelah melahirkan anak

Tapi sejak ia hamil dan melahirkan seorang gadis kecil nan lucu 15 tahun lalu, Astuti berhenti. Amran nama pria itu, yang dengan kurang ajar berjanji “mengeluarkan diluar” tapi dengan santai nya berkata : “Maafin  mas ya Ros. Keenakan, jadi lupa deh hehe” lalu pergi menghilang tak tau kemana jejaknya, mungkin mencari Rosa yang lain.

Astuti dengan penuh kasih sayang mengurus dan membesarkan Lila, gadis kecil tersayangnya. Apa saja yang Lila minta, Astuti kabulkan. Mulai dari waktu anaknya masih berumur tiga tahun meminta semua mainan yang dilihatnya, Astuti pasti membelikan. Atau ketika Lila telah kelas tiga sekolah dasar meminta sepeda untuk pergi sekolah, tanpa pikir panjang Astuti mengambil tabungannya dan berangkat ke toko sepeda terdekat. Atau ketika masuk sekolah menengah pertama Lila minta dibelikan handphone pertamanya, Astuti habiskan semua isi celengannya. Semua uang itu, tentu saja hasil kerja kerasnya memperkenalkan anak asuh nya kepada manusia berhasrat kebinatangan yang tiap kali menghubunginya, butuh sasaran empuk pelampiasan. Tidak susah untuk Astuti dapat pelanggan, kenalan nya didunia liar itu masih begitu banyak, sisa-sisa jaman perjuangan dulu katanya sambil tertawa, jika teman-temannya seprofesinya bertanya. Cuma dua hal yang ia tak mau atau tak bisa kabulkan untuk anaknya itu : siapa ayahnya dan apa kerja Ibu nya (baca cerpen kehidupan obrolan di konter pulsa).

Hingga kini Lila sudah masuk Sekolah Menengah Atas, ia tak tahu menahu apa kerja Ibu nya. Ia tahu Ibu nya berangkat kerja setiap hari lalu pulang sudah hampir tengah malam. Kadang sudah dirumah pun, sering ada telpon yang kata ibu nya dari kantor urusan kerjaan. Para tetangga di sekitaran rumah petaknya juga tak pernah berkata apa-apa, ia juga tak bertanya. Semakin dewasa Lila, semakin tak peduli ia pada kerjaan bahkan pada Ibu nya itu.

Anaknya terlalu dimanja, sekali gak dituruti, kabur dari rumah

Terlalu sering sepertinya Astuti memanjakannya sejak kecil, dan beranjak remaja makin aneh dan mahal saja minta anaknya itu. Terakhir Lila meminta ponsel baru. Tak ingat Astuti merknya, kalau tidak salah seperti buah-buahan. Mahal pokoknya, tak sanggup ia belikan. Hingga akhirnya anak gadisnya itu marah-marah dan kabur dari rumah, sudah sebulan lamanya. Bukan main panik dan kalang kabut Astuti dibuatnya. Dicari nya kemana-mana : rumah teman-temannya Lila, sekolahan, sampai kebeberapa tempat tongkrongan yang biasa anaknya datangi, tidak ketemu. Sudah lapor polisi juga, tidak ada hasil. Diminggu ketiga ia mulai menyerah dan mulai pasrah. Dengan profesional ia mulai perlahan menerima telpon-telpon dari pelanggannya kembali, sambil terus menelpon kesana kemari menanyakan kabar anaknya.

Normalnya, tentu saja pulsa habis jika terus menerus dipakai menelpon. Itulah mengapa sore itu Astuti buru-buru menuju etalase kecil yang terletak di pojok jalan tersebut. Sudah beberapa kali ia beli pulsa disana, karena dekat dengan tempatnya biasa berkumpul bareng teman seprofesinya.

Tiba – tiba dia melihat nomor ponsel anaknya di konter

Berdering nada SMS ponsel nya, “oke udah masuk, makasih” katanya pada Komar sembari melempar uang pas. Baru saja ia mau beranjak pergi, mendadak terdiam ia memperhatikan satu nomor ponsel tepat di atas Komar menuliskan nomor ponsel nya tadi. “Bang, kau liat anak perempuan yang beli pulsa ke nomor ini tadi pergi kemana ?” tanya Astuti menunjuk tulisan cakar ayam di buku catatan lusuh itu. Tentu saja yang ditunjuknya itu adalah nomor Lila anaknya, hapal betul ia. “Bukan cewek, ini tadi si Bos nya Tatang yang beli pulsa.” Jawab Bang Komar.

“ngisiin pulsa buat mainan barunya itu, Mba, anak sekolahan katanya dapet nemu di mall. Kemarin aja dibeliin hape baru tuh cewek. Dibayarin kos-kosan juga katanya, biar tiap hari bisa “dipake”. Pantes ga pernah ke Mba Tuti lagi ya hehe”, Tatang memperjelas. Hancur sudah berkeping-keping hati Astuti sore itu. “Togar bangsat”, geramnya sambil berlari menuju toko Bulan Sempurna.


Terima kasih telah membaca cerpen kehidupan tentang dunia PSK, semoga cerita pendek ini dapat menghibur. Salam sukses

Dibagikan

Words Engineer

Penulis :

Artikel terkait