Two People – Bagian 2 (Tamat)

cerita cinta pendek romantis bagian 2 tamat

Cerita cinta pendek romantis gadis lumpuh yang nyaris diperkosa remaja anak-anak SMA di taman. Akhirnya dia berobat lalu sembuh dari kelumpuhan. Ini merupakan lanjutan dari bagian pertama. Meskipun tetap dapat dibaca terpisah, ada baiknya untuk membaca dulu bagian pertamanya (klik cerita cinta romantis pendek bagian pertama). Bagaimana akhir kisah cerita cinta pendek romantis ini ? mari kita simak pada cerpen berikut :

Cerita cinta pendek romantis Berangkat berobat ke Singapore

Peringatan pesawat akan lepas landas sudah terdengar di telinga. Hati rasanya sedih meninggalkan negeri ini. Sangat berat memang, tapi ini untuk kebaikanku juga. Zwewwingg……. akhirnya pesawatpun berangkat.

Dua tahun kemudian. Saat ini 2 tahun sudah berlalu, aku sudah punya keadaan lebih baik sekarang, bisa berjalan dengan tongkat. “Najung sayang kamu dipanggil dokter nak”. “Ah iya bu”. Aku dipanggil dokter karena sudah boleh pulang. Tentu saja orang tuaku sangat girang. Tapi rasanya hati enggan untuk pulang.

“Sudah dua tahun aku disini !  Apa mereka sudah menikah ya ?”. Aku melamun didekat jendela kamar rumah sakit. Sudah lama tidak menghubungi Jaesung karena sibuk terapi, jadi tidak tahu kabar dari mereka sama sekali.

Hari yang ditunggu tiba, akhirnya tiba kembali di tanah air. “Hay kakak… !!  Wah selamat ya kau besok pulang :-)” Gabriel masuk kamarku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil. “Kau kenapa ? kenapa raut wajahmu murung begitu ? harusnya kau senang kan kak ?”. “Ya aku senang kok Gab”.  “lha terus kakak kenapa gitu ?”. “Hmmmm…..kakak lagi mikir aja kira-kira apa aja ya yang berubah disana setelah dua tahun ?”.

“Ah .. kakak bohong”. Gabriel mengatakannya dengan sangat serius. “Kalau cuma mikirin itu enggak mungkin kakak semurung itu. Aku sangat kenal kakak”.

“Tapi beneran Gab aku cuma mikirin itu. ”

“Kakak mikirin Jaesung kan ? kakak pasti sedih ya kepisah sama dia selama dua tahun dan kakak juga mikirin kemungkinan yang enggak-enggak”

“Gab kenapa kamu ngomong gitu ? kakak sama Jaesung kan temenan dari kecil. Kenapa sampai ada pikiran kayak gitu ?”. “Maaf kak tapi aku udah tau tentang perasaan kakak ke Jaesung. Waktu pulang tiga bulan lalu aku membaca diary kakak di USB kakak di rumah. Hatiku sedih ternyata kakakku selama ini kelihatan bahagia namun hatinya menderita !”

“Kamu enggak usah gitu Gab kakak enggak semenderita itu kok, kamu jangan mikirin itu lagi”

“Aku sayang sama kakak, pengen kakak hidup dengan Jaesung.  Dia pria yang baik sama kakak dari dulu. Tanpa pamrih.”

“Gab biarin aja ini kakak yang jalanin kakak akan bahagia kalau Jaesung bahagia. Kalau dia bahagia dengan Gaeun apa boleh buat ? kakak percaya kalau jodoh enggak akan kemana :-)kamu mau bantu aku berkemas ?”. Gabriel mengangguk “Iya kak”.

Tuhan apakah aku siap untuk menerima kenyataan yang mungkin sangat berat untukku ?. Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata karena terlalu takut pada kenyataan.

Ternyata semua masih sama, hanya waktu yang berbeda

“Aku bisa sendiri bu.!! :-)” kataku ada ibu saat dia hendak membantu aku naik taxi. “Lihat kakak cantik ya bu. Dia bisa jalan sendiri walaupun masih pakai tongkat hehehe” Gabriel. “Ssstttt…. kau ini menggoda saja” jawab ibu. Aku membalas senyuman palsu pada mereka karena hatiku yang sedang risau. Mataku menatap gedung gedung di sepanjang jalan untuk mengalihkan perhatian tapi seolah olah semua sia sia. Yang ada dihati hanya ada satu pertanyaan “Apa Jaesung sudah menikah ?”.

Keesokan harinya, kami sekeluarga sedang asik bersantai di belakang rumah.

“Najung sayang kamu masih capek nak ?” tanya ibu. “Tidak juga bu capeknya hilang dibawa tidur semalam”. “Kalau begitu. Kapan kamu mau menemui Jaesung ? Kalian kan lama tidak bertemu”. Aku menunduk. “Secepatnya bu !”. “Kalau tidak capek sekarang saja” sahutnya Gabriel.

“Mungkin dia masih bekerja” jawabku. “Aku tadi menelepon, katanya dia tidak kerja karena sedang lelah” jawab Gabriel. “Lelah ? Dia tidak pernah mangkir dari pekerjaan kalau tidak punya masalah besar” gumamku.

“Ayo temui dia sekarang, tunggu apa lagi. Kalian kan lama tidak bertemu. Tapi kalau tidak bekerja dia sekarang ada dimana ?” ibu yang bersemangat malah bertanya.

“Aku tau dia ada dimana” dengan pandangan kosong mulutku reflek menjawab. “Akan ku temui dia bu. Aku berangkat sendiri”

Segera aku bersiap dan berangkat menemuinya.  “Kalau dia merasa ada masalah atau dia merasa kesal biasanya dia ada di danau” gumamku sambil menyetir mobil buatan Jaesung dulu. Dan benar saja, pria yang ku kagumi itu ada di danau sedang duduk sambil menatap danau.

Aku enggan untuk memanggilnya dan juga mau memberikan sedikit kejutan untuknya. Ku tutup matanya dari belakang. “Hey siapa ini ?” tanyanya agak terkejut. “Masih kenal suaraku tidak ?”. Dia melepaskan tanganku yang menutupi matanya sehingga membuatku hendak terjatuh tapi dia menangkapku.

“Najung ? kapan kamu pulang ?”.

Aku terdiam sejenak karena jantung ini berdebar lagi saat menatap wajahnya.

“Kemarin !” jawabku sangat lambat.

“Kau sekarang bisa berjalan pakai tongkat ? syukurlah”. Dia membantuku duduk disebelahnya.

“Eee Iya” kataku. “Gabriel tadi menelepon tapi kenapa tidak bilang kalau kau sudah pulang ?”. “Hehem aku tidak tau”. “Kau tersenyum ! berarti kau yang menyuruhnya untuk tidak memberitahuku”. “Tidak, aku bahkan tidak tau kalau dia meneleponmu”.

Aku memutar arah tubuhku untuk melihat danau.

“Kenapa ada apa ? kenapa kau disini ? dan apa yang terjadi ?  aku sudah hafal kalau kau ada disini pasti ada masalah”. “Jangan membuat moment kita pertama bertemu lagi jadi ajang curhat” katanya. “Walaupun aku mengajakmu jalan jalan sekalipun kau tidak akan merasa happy kalau beban di hatimu belum kau bagi dengan bercerita padaku” ucapku. Kita saling diam beberapa saat. “Ayo ceritalah ! jangan dipendam sendiri. Bukannya kau yang mengajariku untuk selalu bercerita apapun padamu ?” sambungku.

“Gaeun mengakhiri hubungan kami karena orang tuanya menjodohkannya dengan pria lain !”. “Hahhh..” Aku membungkam mulutku karena kaget. “Be..benarkah itu Jaesung ? aku menyesal menanyakannya maaf”. “Tidak kau tidak salah. Kau hanya mau tau kan ? Nah sekarang ceritakan Singapore padaku”

“Apanya yang bisa ku ceritakan semua mengesalkan. Tidak ada satupun teman yang bisa aku ajak cerita. Hanya ada dokter-dokter menyeramkan !”. “Tapi hasilnya baguskan ? kau sekarang bisa berjalan”. “Iya”. “Ayo jalan jalan menyusuri danau”. “Tapi aku berjalan pakai tongkat !  mana asik ahhh tidak mau capek plus susah !”. “Jangan pakai tongkat.  Tongkatnya biar disini aja.”. “Terus ?”. “Kau pegang tanganku. Aku akan menggandengmu. Ayo berdiri !”. “Hehem…. selalu !”. “Apa ?”. “Menyusahkanmu”. “Tidak terlalu susah daripada menggendongmu”.

Akhirnya kami berjalan menyusuri danau sampai sore. Semua jadi canggung. Jadi tidak banyak topik obrolan saat berdua. Entah karena lama tidak bertemu atau aku terlalu takut untuk berbicara. Karena takut, menanyakan soal Gaeun pun tidak tau. Jadi lebih banyak diam.

Aku duduk dikursi sebelahnya dan hanya memutar- mutarkan cangkir teh ku sambil  sesekali melihatnya  melamun. “Kenapa tidak diminum ?”. “Emh … tidak apa apa. “. “Maaf aku membuatmu bosan. Apa kau mau pulang saja ? aku antar ya”. “Aku pulang sendiri saja. Kalau kau mau disini”.  “Lebih baik aku antar kan ?”. Dia sudah siap-siap memakai jaketnya.

“Tidak Jae… aku juga mau sendiri”. “Okey kalau itu yang kamu minta”. Dia kembali duduk. Aku mengemudi dengan pelan pelan menyusuri jalan sambil menikmati pemandangan. Dalam otakku berfikir “Aku mau menemani Jaesung saat sedih begini, tapi mungkin sekarang memang lebih baik kalau tidak bersamanya dulu. Dia butuh waktu untuk sendiri”

Saat menoleh ke kanan sisi jalan, mataku melihat bangku taman yang dulu ku duduki. Aku menghentikan mobiku dan lalu turun berjalan menuju bangku itu. Disini ditempat ini. Ada kenangan buruk yang membuat trauma. tapi disisi lain aku berhutang jasa dan semakin mencintai Jaesung. ohh Tuhan aku harus bagaimana ? Aku harus senang atau sedih ?. Hatiku sedih melihatnya murung begitu. Tapi disisi lain aku ingin menjadi penggantinya Gaeun. Aku  menyukainya sejak kecil. Tapi dia sudah cukup lama mencintai Gaeun, tidak mudah untuk membuatnya lupa.

Menyibukkan diri dengan menggambar dan mengajar anak-anak

cerita pendek cinta romantis mengajar anak anak
Mengajar anak-anak (@ listden.com)

Untuk mengisi waktu, ku coba mengalihkan perhatian dengan menggambar dan mengajar anak anak yang membutuhkan seperti di panti asuhan. Ini cara yang mutlak untuk mengalihkan perhatian karena selain menjadi sibuk juga sangat bermanfaat. Tawa canda mereka membuatku semakin terbuka, betapa beruntungnya diriku selama ini memiliki keluarga yang utuh.

Bim… bim… terdengar suara klakson mobil yang diparkir di sebelah kelas. Dari dalamnya keluarlah Jaesung dengan membawa kardus.

“Jaesung ?”. “Wahhh … ada bu guru baru rupanya”. “Kamu mau apa Jae ?”. “Bermain sambil belajar 😉 hey anak anak aku punya mainan !”.

“yeeeeeee…!!!” anak anak berteriak lalu mengeroyok Jaesung

“Wah ibu jadi di acuhkan karena dapat mainan” ujarku.

“Biarkan mereka bermain dulu, tidak baik memaksa anak terus belajar dan membuat otak mereka selalu tegang”. “Sudah jauh lebih baik ?”. “Ya… jauh lebih baik”. “Bukannya itu semua mainan kesayanganmu dulu ?”. “Ya tapi tidak mungkin bermain dengan mainan mainan itu lagi kan ?”. “Heem.. iya !  aku lupa kalau Jaesung kecil dan bertubuh mungil sudah dewasa”. “Jangan meledekku” katanya.

Kami menghabiskan banyak waktu disana. anak anak semakin senang saat ada Jaesung. Setelah pertemuan tidak disengaja itu, setiap hari Minggu kamii selalu meluangkan waktu untuk pergi kesana bersama. Terhitung sudah satu bulan lebih kami melakukannya setiap hari Minggu. Seperti hari ini. Tapi aku telat untuk bersiap-siap, jadi Jaesung harus menungguku dulu di ruang tamu. Saat turun tangga dari kamarku, ku dengar Jaesung mengatakan

“Baiklah paman aku akan memikirkannya”

“Jaesung aku sudah siap…!!!”

“Hemmm  ya baguslah kasihan anak anak sudah lama menunggu”. “Apa yang kalian bicarakan tadi ?” tanyaku ke Jaesung. “Bukan apa-apa urusan laki-laki” jawab Jaesung. “Awas kau ya, aku akan tanya ayahku langsung nanti”. “Ayo jangan banyak mengomel guru tidak boleh telat”. “Jujur saja aku belum menyiapkan pelajaran untuk anak anak. Nanti kita mengajarkan apa ya ?” tanyaku sambil membaca buku. Tapi dia tidak menjawab. “Jaesung ? kau dengar aku ?”. “Ha…? iya aku dengar ! Mungkin pelajaran matematika !” ujar Jaesung.

“Sebenarnya apa yang kau pikiran ? Atau jangan jangan ini tentang yang kau bicarakan dengan ayahku tadi  ?”. “Tidak aku kan sedang menyetir Jung, jadi tidak konsen kau tanya apa”. “Ehmm ya sudah nanti kita mengajarkan matematika saja”.  Saat mengajar juga dia tidak seperti biasanya dia pasti memikirkan sesuatu. Apa mungkin dia memikirkan Gaeun lagi ?.

Hari itu langsung pulang ke rumah

“Eh kakak sayang sudah pulang ! tumben enggak jalan jalan dulu ?” begitu sapaan Gabriel saat aku pulang. “Enggak Gab, lagi capek !” jawabku singkat. “Emmm aku punya berita bagus yang bikin capeknya kakak hilang”. “Apa Gab ?” aku duduk disebelahnya.

“Aduuuuuh Gabriel ini enggak sabar banget ! kakakmu kan baru pulang, biarin dia minum dulu duduk dulu baru diajak ngobrol !” sahut ibu.

“Aaahh ibu tapi ini kan penting banget !” elak Gabriel.  “Apa sich Gab ?” sahutku sangat ingin tahu. “Biar ayah saja yang bilang, kamu mandi dulu gihh sambil nunggu ayah selesai makan !” jawab ibu. “Ahh bikin penasaran saja !”.

Aku pergi mandi dan kembali 10 menit kemudian.

“Aku sudah mandi, ayah juga sudah ada, Gabriel ada, ibu juga ada. Nah sekarang mau bilang apa sich kayak rapat paripurna aja ?” candaku.

“ha.. ha.. ha .. Najung Najung. Jadi begini aku tadi pagi bicara hal penting dengan Jaesung”. Mendengar itu mulutku langsung memotong sebelum ayah selesai bicara “Naaah… aku juga mau tanya itu ayah. Apa ? apa ? ayo apa. ?”

plaakkkk…..!! ibu memukul pahaku. “Heh dengerin dulu ayah bicara jangan nyerocos duluan !” katanya. “Ibu, aku kan penasaran”. “Sudah sudah jangan ribut, mau dengar tidak ?” kata ayah menengahi. “Langsung saja yah, jangan bertele-tele ” sambung Gabriel.

“Jadi ayah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Jaesung ” kata ayah.

“Apa ? ayah menjodohkanku ? ah pantes aja Jaesung tadi mukanya kucel murung kayak ditekan gitu. Ayah jangan semena-mena donk !” kataku.

“Loh bukannya kamu suka sama dia ? Harusnya kamu berterima kasih donk ke ayah ?!” bela ayah.

“Gabriel …!!!!!!! kamu tuh ember bocor ya..?”. Aku berdiri dan menghampiri Gabriel. Sudah pasti dia biang keladinya yang membocorkan rahasiaku.

“He.. he.. he ampun kak. Tapi itu kan benar. Aku cuma mau bantu kakak” kata Gabriel membela diri.

“Tapi enggak harus ember juga …!!!” kataku sambil menggelitiki Gabriel sampai dia ngakak kegelian.

“Najung …! sudah … sudah … kasihan tu Gabrielnya kaku gitu” kata ibu. “Tapi dia ember bu”.

“Tapi maksudnya Gabriel kan membantu kamu, kalau dia enggak bilang ke ayah sampai kapan kamu pendam terus perasaan kamu” bela ibu.

“Tapi kan aku malu. Masak dijodohin sama temenku dari kecil ? apa kata Jaesung ? Lagipula aku yakin kalau Jaesung masih patah hati yah !”

Ternyata ini konspirasi dan pengaturan waktu yang tepat untuk merebut hati Jaesung

“Justru itu, mumpung sekarang dia sedang patah hati dan masih sendiri. Ini waktu yang tepat buat kamu masuk ke hatinya Jaesung dan menjadi pendampingnya Jaesung” jawab ayah.

“Tapi aku masih belum sembuh total dan tidak mau masih sakit saat jadi pendampingnya Jaesung”

“Ya ibu tau kau mau tampil perfect dihadapan Jaesung !” sindir ibu.

“Iiiihhhh ibu.!!!” aku mencubit tangan ibu.

“Ya… ya.. tapi menurut ayah kau sudah perfect nak. Kau hanya tinggal belajar saja sedikit lagi untuk berjalan” kata ayah.

“Sekarang … alangkah lebih baik kalau kamu memastikan Jaesung, apakah benar dia menerima perjodohan ini atau tidak. Mungkin saja kalau sama kamu dia lebih terbuka untuk menjawab. Kalau sama ayah dia kan canggung untuk bilang jujur. Karena biar bagaimanapun kita enggak bisa memaksa dia kan ?” sambung ibu.

“Iya bu..” jawabku. Sepertinya aku sudah yakin untuk masuk dalam konspirasi ini.

Janjian ketemu di kafe ternyata dia sudah disana

“Jaesung aku mau bicara di kafe biasa, aku mau pesan kopi” ku kirim whatsapp ke dia. “Aku sudah ada disini” balasannya. Aku melihat ke jendela, ternyata dia sudah ada di parkiran, padahal waktu itu masih cukup pagi sekitar jam 06:30.

“Kau sudah pesan ?” tanya Jaesung. “Belum aku juga baru duduk”. “Kita pesan dulu ya. Kau pesan apa ?”. “Mocca saja” jawabku. “Sebentar aku ke kasir”. Lima menit kemudian dia kembali.

“Ada apa ?” tanyanya seketika duduk di hadapanku. Aaku mau bicara tentang yang dikatakan ayah padamu kemarin. Maaf ya, dia tidak paham posisimu”. Aku mengatakannya sambil memunduk dan memutar-mutar jariku diatas bibir cangkir kopi. “Tidak apa apa” jawabnya singkat. Terus terang jawabannya membuatku bingung untuk kata-kata selanjutnya. Jadi kami saling diam beberapa menit. “Hanya itu ?” tanya Jaesung. “Ha… apa ?” aku tergagap.

“Hanya itu yang mau kau katakan ?”. “Tidak tapi aku bingung mau mulai dari mana”. “Ayo bicara saja seperti tidak kenal aku saja”. “Ini agak aneh tapi… bagaimana menurutmu tentang rencana ayah ?”. “Kau tahu kan, aku sudah tidak punya orang tua lagi sejak usiaku 14 tahun. Selain bibi ku yang sayang padaku, orang tuamu paling respect padaku”. Dia menarik nafas panjang. “jadi aku rasa tidak ada salahnya. Mereka sudah menganggapku seperti anaknya sendiri”.

“Jangan begitu, kau orang baik, jadi kau berhak memilih. Lagipula ibuku juga tidak suka kalau kau merasa terpaksa karena mereka baik padamu”. “Aku rasa orang tuamu tidak akan keberatan kalau kita minta waktu.  Tapi kalau kau tidak menyukaiku, ya tolak saja. Kau kan gadis baik”. “Aku akan minta waktu” pungkasku cepat tak mau kehilangan harapan.

“Ayo cepat minum kopimu keburu dingin”. Dua minggu kemudian Jaesung diundang ayah ke rumah untuk makan malam. Ayahku benar benar tidak bisa basa basi dia langsung menanyakan tentang perjodohan itu. “Heeh biarkan Jaesung dan Najung makan dulu jangan ditanya” ibu menengahi.

“Aku juga penasaran bu” Gabriel duduk dibelahku ikut menyahut pembicaraan. Akupun menginjak kaki Gabriel hihihi. ….

“Aku serahkan keputusannya ke Najung saja. Kalau aku merasa sangat beruntung apabila punya orang tua ke dua seperti kalian” jawab Jaesung bijak.

“Ahaak…” Gabriel mengejekku. Aku kembali menginjak kaki Gabriel tapi tidak kena.

“Najung…?” ayah memanggilku untuk menjawab. “Aku tidak tau ayah. Jawaban Jaesung itu mengambang. Dia hanya mengatakan kalau dia beruntung karena kalian baik”

“Itu berarti kak Jaesung menjawab iya kak Najung…” gurau Gabriel. Aku melihat ke Jaesung. “Kenapa melihatku seperti itu ? apa aku kurang tampan ?” canda Jaesung. “Ibu… apa ibu mau punya menantu dia…?” candaku pada ibu. Ibu hanya sempat membuka mulut dan belum menjawab ketika mulutku menyahut lagi “Ibu saja yang jawab, aku mau tidur”. Aku pergi dari meja makan dan masuk kamarku. Aku tahu ibu akan menjawab iya karena dia tau isi hatiku.  aku tidak mau menjawab sendiri karena aku malu.

Akhirnya kami menikah

Tidak butuh waktu lama menunggu untuk menikah karena semua dipercepat oleh ayah dan bibinya Jaesung.  Dua bulan setelah makan malam itu, kami resmi menjadi suami istri.

“Apa ini penampilan terbaikku ? haahh kacau.  Masih kelihatan pucat, tapi akan nampak lucu kalau aku pake make up tebal” kataku sendiri di depan cermin kamar mandi saat pesta pernikahan usai.

Tok… Tok… Tok… pintu diketuk dari luar. “Najung kau kenapa ? apa kau sakit perut ? Kau sudah setengah jam disana !”. Terdengar teriakan Jaesung dari luar kamar mandi

“Yaaaa aku keluar sebentar Jae.. !”. teriakku.  “Huh..  pede saja Najung jangan gugup” gumamku dalam hati lalu keluar dari kamar mandi.

“Kau tidak apa apa. ?” tanya Jaesung. Aku hanya menggelengkan kepala. Kita sama sama duduk di atas ranjang. Hanya saling diam satu sama lain tanpa ada yang memulai pembicaraan he..he..he… ini sangat lucu.

“Dududu… dududu….. ” gumamku karena kita seperti kuburan sepinya.

“Najung” Jaesung memanggilku.  Aaaahhhh…… akhirnya ada obrolan diantara kita. “Iya apa ?”. “Kau gugup ?”. Aku hanya senyum dan mengangguk. “Aku juga ! eeeeeeee……..”. Jaesung mendekatiku dan memelukku pelan pelan. “Apa kau dengar ?” tanyanya. “Apa ?”. “Detak jantungku”. “Ya aku dengar. !”. “Aku juga dengar detak jantungmu” ucap Jaesung sambil melepaskan pelukannya.

“Najung aku ingin menyampaikan sesuatu.”. “Huh….. ya apa ?”. “Hari ini aku sangat bersyukur kita menikah. Aku mendapatkan istri yang baik dan aku sudah sangat mengenalmu” kata katanya terhenti sebentar. “Dulu aku selalu kawatir kalau kau mendapatkan laki laki yang salah yang tidak bisa menerimamu atau tidak benar benar mencintaimu. Aku dulu berfikir kalau diriku akan selalu mengawasimu, walau kita sudah sama sama menikah karena aku tidak mau kau disakiti. tapi sekarang hatiku lega. Ternyata Tuhan menakdirkan kita bersama.  Keinginanku untuk  selalu menjagamu terkabul”

Mataku sudah berkaca kaca mendengar kata katanya. “Benarkah Jae ..?”. Dia mengangguk menandakan kalau dia serius dengan kata katanya.  “Kau sungguh sungguh ? aku fikir kau terpaksa ataupun hanya menuruti mau ayahku. Hatiku selalu takut kalau kau nanti akan menyesal karena diriku bukan wanita yang kau cintai”. “Uussssssttttt….. kau tidak boleh mengatakan begitu. Kau wanita baik. Dimataku dari dulu kau tidak pernah cacat ! aku menyanyangimu” kata Jaesung sambil mencium keningku. Dan lucunya, aku menangis malam  itu sampai lamaaaa … sekali karena sangat terharu. Sementara dia sibuk menenangkanku karena takut didengar orang. Akhirnya setelah tenang, kamipun berpelukan setelah mematikan lampu.

= TAMAT =


Terima kasih telah membaca cerita cinta pendek romantis Two People bagian kedua (tamat). Semoga cerpen ini dapat menghibur dan memberi manfaat. Salam sukses.

Dibagikan

Feb Lis Sof

Penulis :

You may also like