Two People

cerita cinta romantis pendek Two People bagian 1

Sebuah cerita cinta romantis pendek tentang gadis lumpuh sejak lahir nyaris diperkosa oleh anak-anak SMA di taman. Dia memiliki cinta terpendam pada cowok yang dekat dengannya sejak kecil tapi cowok itu punya pacar. Bagaimana jalan cerita pendek cinta romantis ini selengkapnya ? simak pada cerpen berikut :

Cerita Cinta Romantis Pendek “Two People”

Untuk mengawali cerita aku ingin mengenalkan diriku dulu pada kalian para pembaca. Namaku Soo Najung pada awal cerita aku akan memulainya dari masa SMA. Usiaku 18 tahun, aku punya kekurangan fisik yaitu tidak bisa berjalan sejak masih bayi. Tapi syukurnya aku dapat melanjutkan sekolahku sampai sekarang. Aku gak sendiri, aku punya sahabat namanya Jaesung dia 1 tahun diatasku tapi kita memang berada di kelas yang sama.

Dia orang satu-satunya yang dpercaya orang tuaku untuk pergi bersama kemanapun karena memang dari kecil kita sudah tumbuh bersama. Saat dia masih umur 6 tahun dia  pernah menggendongku karena dia ingin mengajakku bermain. He hem lucu kan ? Saat itu tubuhnya masih lebih kecil dariku tapi so sweetnya dia tidak mengeluh sama sekali saat menggedongku dan tetap mengajakku bermain (baca : cerita cinta romantis pendek cinta jarak jauh).

Tapi saat beranjak dewasa ada satu rahasia besar yang Jaesung tidak tahu. Seiring berjalannya waktu, dia menjadi sosok mengagumkan dan tanpa sadar aku jatuh cinta padanya.

Huh…..rasanya menyebalkan. Cinta pertama yang buruk. Aku memang tidak bisa apa skarang karena Jaesung pun sudah memiliki pacar. Saat aku duduk sendiri aku melhatnya sebagai gadis yang mencntainya tapi saat aku duduk brdua dengannya aku berperan sebagai sahabat yang selalu setia mendengarkan curhatannya tentang Gaeun, pacarnya !!.

“Kenapa kau sudah kemari ? apa latihan basketnya sudah selesai ?” dia  menghampiriku dibangku penonton. “Belum tapi kita sudah lelah nanti mulai lagi”. “Minum ?” Aku menyodorkan mimuman padanya tapi saat dia akan mengambilnya Gaeun datang membawa minum juga jadi dia tidak jadi mengambil punyaku.

“Kau datang tepat waktu” sapanya Jaesung ke Gaeun. “Itu sudah kewajiban”  jawab Gaeun.

“Aaah kalian..  hey aku tidak bisa pindah. Kalau mau kencan ditempat lain saja” gurauku.

“Kami tidak akan pcaran didepanmu. Aku hanya mau makan siang denganmu dan Jaesung” Gaeun mengatakannya dengan nada sangat ceria.

“Hemmm…. baiklah kau makin manis saja” puji ku. “Kalau mau makan jangan sambil mgobrol nanti bisa tersedak” sahut Jaesung. “Iya pak guru…” jawab Gaeun sambil mencubit kedua pipi Jaesung. Mereka sangat mesra. Walaupun rasanya aneh melihatnya tapi aku bahagia. Kisah itu berlangsung sampai kami beranjak dewasa, terhitung sudah delapan tahun mereka menjadi sepasang kekasih ! Sementara aku selalu menjadi saksi kisah cinta mereka.  Saat ini usiaku sudah 23 tahun, sekarang aku sudah sarjana dan Jaesung sudah menjadi ahli teknik di sebuah perusahaan mobil.

bim…bim…bim…

Suara mobil Jaesung sudah di depan rumah. “Wah…cepat sekali kau datang !”. Kataku yang sudah menunggunya di teras. “Aku tidak akan membiarkan wanita menunggu terlalu lama” katanya sambil berjalan ke arahku.

“Mobil baru lagi ? hem… enak sekali bisa gonta ganti mobil terus !”

“Ah  … aku kan hanya promosi !.  oh ya kau mau bicara apa ?”

“Jangan disini, aku tidak mau ayah dengar ataupun tahu”

“Jadi kita harus pergi ? dan aku harus menggendongmu lagi ? Najung apa kau tahu kau ini semakin berat ?” keluhnya sambil mengangkat tubuhku.

“jangan begitu ! aku sudah berusaha untuk menjaga berat badanku”

“hem…. tapi kau tetap berat !” katanya bersungut.

“Jaesung !!!” aku memukul dadanya. Dia menaruhku pelan-pelan di mobil.

“Jadi putri kita akan kemana ?”

“Ke Kafe” kataku. Tanpa banyak bicara Jaesung pun melajukan kendaraannya ke Kafe.

Sampai di kafe aku jadi pusat perhatian karena Jaesung menggendongku.

“Sebenarnya aku malu datang kesini tapi ada hal penting harus ku bicarakan denganmu”

“Ehem.. apa itu ?”

“Jae, aku perlu bantuanmu tapi mungkin akan membuatmu sangat repot. Kau kan berkerja di perusahaan mobil. Aku akan memesan mobil dengan design khusus”

“Design yang bagaimana ?”

“Mobil yang bisa dikendalikan cukup dengan tangan”

Raut wajahnya Jaesung berubah menjadi bingung.

“Jae kenapa ? apa itu terlalu sulit ?”

“Mau pesan apa pak ?” Seorang pelayan menghampiri kami. “Maaf kita tidak jadi pesan !”. “Kenapa ?” tanyaku. “Karena kita harus pergi kesuatu tempat”.  “Kemana ?”. Dia tidak menjawab dan langsung menggendongku begitu saja. “Kalau kau keberatan tidak apa-apa akan aku urungkan niatku !” kataku sambil menunduk. “Sudah diamlah !” katanya.

Dia mengajakku ke sebuah gudang kosong. “Kau duduk dulu di kursi roda”. “Kau mau kemana ?”. “Aku tidak akan lama”. Tidak lama kemudian dia kembali membawa mobil dari dalam gudang itu dengan wajah gelisah.

“Najung”. Dia jongkok didepanku. “Sebenarnya aku sudah membuat mobil itu dari aku umurku 10 tahun. Mobil itu aku design sendiri dan bisa dikendalikan dengan tangan ! itu mobil pertamaku yang aku buat dengan tanganku sendiri” (baca : cerita cinta romantis pendek saat aku ternodai).

Aku hanya diam karena bingung. “Mobil itu aku buat untukmu dan baru jadi saat aku berusia 18 tahun tapi aku takut memberikannya padamu, dan berharap kau akan sembuh. Aku takut menyinggung perasaanmu karena lancang membuatnya tanpa tanya dulu padamu. Dulu kau bilang akan mengajakku jalan-jalan kan jika kau bisa menyetir sendiri ?”

Saat Jaesung mengatakan itu air mataku sudah bertumpuk di mata karena terharu

cerpen romantis duduk di taman
Duduk di taman

“Jaesung. ” Aku memeluknya dan menangis dipelukannya sementara tanganya menepuk-nepuk punggungku. “Terima kasih Jaesung. Memang selama ini kau yang paling mengerti !”

Aku larut dalam suasana bahagia tanpa sadar sehingga memeluknya cukup lama. “Maaf” kataku meminta maaf karena memeluknya terlalu lama.

“Tidak apa-apa aku senang kau bahagia. Selama ini aku selalu takut kalau kau akan tersinggung saat aku memberikannya”

“Mana mungkin ! kau sangat peduli padaku”

“Jadi apa kau akan mengajak Jasson jalan-jalan dengan mobil ini ?”

“Tidak juga ! mana mungkin wanita mengajak pria jalan-jalan duluan ?”

“kenapa bukankah cita-citamu jika bisa menyetir sendiri akan pergi ke cafe dan memandanginya setiap hari karena dia pasti akan makan siang disana !”

“Iya tapi aku sudah patah hati ! dia sudah punya pacar !”

“Ooh maaf ya. Aku tidak tau”

Jaesung aku membohongimu. sebenarnya hatiku sama sekali tidak menyukai Jasson ! Aku hanya bohong supaya tidak ketahuan kalau menyukaimu. Aku tahu kalau hanya ada Gaeun dihatimu. Aku bergumam dalam hati.

“Apa kau marah ? kenapa kau diam ?”

“Tidak ! sekarang bagaimana kalau kau mengajariku saja :-)”

“Baiklah jadi kau mau mencobanya sekarang ?”

Aku mengangguk dan dia mulai mengajariku untuk menyetir.

“Kau mau mengarahkan mobil ini kemana ?” tanya Jaesung.

“Ke sekolahan kita dulu !”.

“Kenapa kesana ?”

“Aku ingin melihat anak-anak sekolah dasar disana ! entah kenapa benakku ingat ketika kita dulu masih duduk di sekolah dasar”

“Oh jangan lupa selalu pegang bagian remnya”

Jaesung memegang tanganku dan memberikan aba aba.

“Sekarang aku masih tidak percaya kalau aku sedang menyetir”

“Terlihat sekali kau sangat senang ! Jasson pasti akan langsung jatuh cinta kalau melihat wajah cantikmu sekarang ini”.  “Kau sedang memujiku ?”. “Tunjukkan senyummu setiap hari pada Jasson, ku yakin dia akan tertarik padamu. Kau jauh lebih cantik saat tersenyum”

“Aku tidak yakin karena hanya kau yang memujiku”.

Setelah puas jalan jalan kami mampir ke taman untuk istirahat.

“Udara di malam hari enak ya sangat sejuk”

“Iya tapi ini terlalu dingin, dan jaketmu juga terlalu tipis”

Jaesung memakaikan jaketnya untukku

“Aku tidak menyangka kalau hari ini bisa jalan jalan dengan mobil buatanmu”

“Jika aku tau kalau kau akan sebahagia ini, aku tidak akan ragu lagi untuk memberikannya padamu”

“ouh…. Jaesung sekarang aku baru menyadarinya kalau kau sudah dewasa dan bisa membuatkanku mobil”. Akupun mencubit kedua pipinya Jaesung. Tiba tiba …

“Sudah aku duga kau menggunakan ketidak sempurnaan fisikmu itu untuk menarik perhatiannya Jaesung. Aku yakin tidak lama lagi Jaesung akan putus dengan Gaeun gara gara ulahmu” Kara datang dengan nada yang marah dia mengomeliku. Dia adalah sahabatnya Gauen yang juga menyukai Jaesung.

“Kara jaga ucapanmu, aku disini dengan Najung hanya istirahat bersama saja !”

“Ah … sudahlah yang ada hanya alasan saja. Heh dengar ya Najung kau jangan pura-pura naif begitu, hanya akan membuat Gaeun makin sakit hati.”

“Kara aku…” kata-kataku terpotong karena Jaesung menarik tangan Kara untuk pergi dan bicara berdua. Mereka masuk mobil. “Najung nanti aku akan kembali tunggu sebentar disitu !” teriakan Jaesung sebelum pergi. Aku duduk sendirian di bangku taman itu. Cukup lama aku menunggu sekitar 20 menit.  Dengan waktu selama itu, jujur saja hatiku mulai merasa ngeri berada di taman luas sendirian.

Akupun mulai berhalusinasi, merasa kalau pohon tidak jauh dariku itu bergerak sendiri. Makin lama makin takut. Tapi karena duduk dibangku taman jadi tidak bisa kemana mana. Aku hanya menunduk dan membaca doa karena takut.

“Jaesung cepatlah kembali” rengekanku pelan-pelan. Rasa takutku tidak bisa ditoleransi lagi. Aku ingin segera pergi dari sini. Tapi bagaimana ?. Akupun menjatuhkan diri dari bangku lalu merangkak sebisaku. Dalam hatiku berharap Jaesung akan segera kembali. Kakiku rasanya sakit sekali terkena bebatuan di taman. Sesekali aku mengusap-usap lututku karena terasa sakit hingga akhirnya aku benar-benar menangis karena taman itu nampak seram sekali ditambah lagi kakiku sakit karena banyak goresan dan membentur-bentur batu kerikil.

Saat menangis ada gelak tawa dari balik pohon yang ku takuti tadi. Ternyata ada murid murid SMA tengah mengerjaiku.

“Ha… ha.. ha… kenapa kakak yang cantik ?  takut ?” Kata salah satu dari mereka.

“Kalian ? ini tidak lucu. kakiku terluka gara-gara kalian”

“Ouh…. kau terluka ya ?, mana yang sakit biar kami obati”

Dua pelajar menghampiriku. Awalnya mereka memang melihat lukaku yang ada dilutut tapi lama-lama salah satu dari mereka meraba-raba pahaku.

“Apa yang kau lakukan ?”

Akupun melempar tangan pelajar itu.

“Hey kakak kau jangan galak-galak”

“Sudahlah jangan basa basi. Kita sikat saja, lagipula pula ku yakin dia tidak akan menolak” sahut temannya.

“Apa maksud kalian ?”.

“Menurutmu apa lagi kak ? kita ini sudah dewasa ! dan kau gadis cantik tentu saja kita tergoda”.

Salah satu dari mereka terlihat membuka ban pinggang

“Jangan macam-macam atau aku akan teriak minta tolong !” Ancamku sambil mengundurkan diriku pelan-pelan.

“ha… ha… ha … teriak saja kita tidak takut ! taman ini selalu sepi orang. Tidak akan ada yang menolongmu !”

“Tolong… Tolong…Tolong… !!!” teriakku sambil menangis.

“Ayo cepat pegangi dia”

“Enak saja kau mau duluan. Lalu tugasmu apa ?” jawab temannya

“Aku akan menbungkam mulutnya dengan bibirku hahaha…”

“JAESUUUUNG……” Tangisku semakin histeris.

“Kau memanggil siapa ? pacarmu ? lupakan dia kau jadi milik kita malam ini.”

Nyaris diperkosa di taman malam itu

Pelajar itu memaksa untuk menciumku. Aku meronta sekuat tenagaku untuk melawan mereka. Tiba – tiba  … jrootttt…. pukulan Jaesung langsung melayang ke wajah mereka.

Jaesung datang tepat waktu sebelum tubuhku tersentuh oleh tangan-tangan kotor anak-anak itu. Saat Jaesung berkelahi aku menangis segugukan sambil memeluk kakiku.

Hingga akhirnya Jaesung berhasil mengusir mereka dan menghampiriku.

“Najung. Maaf seharusnya aku tidak meninggalkanmu tadi” Wajahnya terlihat sangat menyesal,
dia membawaku ke mobil.  “Najung aku sangat menyesal. maafkan aku”.

“Aku takut Jaesung. Aku takut..” Dia memelukku untuk menenangkanku.

Doooor… Doooor… Doooor… Doooor… Kara memukuli kaca mobil

“Jaesung. Kita belum selesai bicara. Tadi kau meninggalkanku begitu saja ! Keluar dan bicaralah denganku.”

“Kita pulang. Biar aku yang menyetir..!!”

Jaesung bicara padaku dia tidak menggubris Kara dia langsung tancap gas

“Aku benar-benar minta maaf padamu. Gara-gara meladeni Kara kau jadi begini.”

Jaesung terus meminta maaf sepanjang perjalanan pulang. Tapi aku hanya diam karena masih syok dan sedih mengingat kejadian tadi.

Lima bulan kemudian

Lima bulan berlalu, perlahan-lahan aku mulai melupakan kejadian itu.

“Selamat pagi kakak…”

Gabriel adik laki-lakiku menyapa saat sarapan pagi.

“Pagi gab.”

“Kak hari ini aku mau tanding basket lho.. kamu nonton ya ?”

“Males ahh Gab, mending dengerin lagu kesukaanku di kamar”

“Ah kakak ini masak di kamaaaaaar aja. Enggak bosen apa ?”

“Hehem makasih ya sayang udah perhatian. Tapi aku emang males aja keluar-keluar gitu pasti jadi pusat perhatian.”

“Nggak papa kakakku yang cantik. Kan bagus kalau jadi pusat perhatiannya cowok-cowok !! Siapa tau ada yang mau jadi pacarnya kamu”

“Gabriel sayang… Aku jadi pusat perhatian orang-orang itu karena rempong bukan karena cantik. Stop ajalah buat mbujukku karena aku gak mau”

“Gak ada salahnya jalan-jalan sama adek sendiri. Selama ini kamu jalannya ma Jaesuuuung mulu. Kasihan dia juga kalau kamu tergantung dia terus. Dia akan merasa kalau kamu cuma bisa jalan-jalan sama dia aja dan dia akan merasa bersalah kalau gak ngajak kamu walaupun dia lagi mau sendiri” sahut ibu sambil menyiapkan makanan.

“Betul tu kak, mau yaaa…? jalan sama aku” rengekan Gabriel.

“Kak Najung itu gak akan nyaman kalau gak jalan sama pangerannya Jaesung” gurau Erent adikku yang satunya.

“Erent ni ah kayak kamu gak punya gebetan aja. Nyamber aja” sahut ibu.

“Kenalin ke ibu kali pacarnya”  gurauku.

“Ah udahlah balik ke topik tadi aja. Bu aku berangkat dulu” dengan wajah tersipu malu Erent pergi.

“Kaaaaak… mau ya ?” Gabriel kembali merengek

“Hem..  ya de tapi sebenernya aku gak terlalu suka di keramaian dan juga gak enak kalau kamu tinggal lama-lama”

“Yeeeee….. akhirnyaaaa… ok kak aku janji gak akan lama-lama tapi ya.. kalau lagi tanding ya pastinya aku tinggal tanding. He… he ….”

“Hem ya aku tau”

Akhirnya kita berangkat bareng ke sekolahannya Gabriel dengan naik mobil. Ekspresi Gabriel gembira banget waktu di dalam mobil.

“Sesenang itu kamu bisa ngajak aku ?”

“Ya kak jujur aku seneeeng banget bisa ngajak kamu nonton basket”

Aku tersenyum. “Emang senengnya apa sich ?”

“Senengnya bisa menunjukan dunia luar ke kakak. Biar kakak gak jadi rapunzel terusss !”

Aku bahagia banget dengan jawaban adikku itu, dia peduli banget sama aku. Terima kasih Tuhan ku ucap dalam hati sambil mengelus-elus kepala adikku.

Kami sampai di lapangan.  Gabriel disambut para teman-temannya. Tapi saat Gabriel menyiapkan kursi roda menggendong dan menurunkanku, pandangan mereka jadi berbeda seperti agak kaget.

“hay…. guys…” sapa Gabriel ke teman-temannya.

“Hay juga Gab siapa tuh…?” tanya salah satu temannya.

“Oh ni sister gue kenalin donk” Dia percaya diri banget ngenalin aku ke teman-temannya.

“Halo aku Yuda temannya Gabriel”

“Hallo aku Najung kakaknya Gabriel ”

“Owh wah…. ternyata kakak ya aku pikir adiknya. Hallo kak aku Joshua, kita kok baru lihat kakak kamu ya Bri ?”

“Ya kakakku emang jarang keluar”

“Kak mau minum ?”

Joshua menyodorkan minum ke aku

“Cyeeeee Joshua perhatian banget ma kak Najung” goda Gabriel

“gak apa-apa lah Gab kalau kakak kamu single gue mau jadi pacarnya”

“Hehem tapi sayangnya dia udah punya pacar lagian mana iya dia mau ma brondong”

hahahahahaha……. tawa diantara anak-anak muda itu pecah setelah Gabriel bilang begitu.

“Gab kita nyari tempat duduk dulu yuk keburu penuh” ajakku.

“oh iya.  Bentar ya guys aku nyari tempat duduk buat tuan putri dulu”

Gabriel mendorong kursi rodaku pergi kebetulan lokasinya masih banyak kosong jadi aku dapat tempat duduk di depan.

Pertandingan dimulai semua orang berdiri untuk memberi semangat ke tim favorit mereka rasanya aneh aku yang duduk sendiri tapi ya sudahlah demi melegakan permintaan Gabriel pasrah aja. Semua orang melihatku nampak heran. Setelah pertandingan berakhir Gabriel langsung datang ke tempat duduk aku bersama Joshua.

“Capek ?” sapaku sambil tersenyum dan ngasih handuk.

“Ya tapi kakak gak apa-apa kan duduk disini ? Kakak pengen ke kamar mandi gak ?”

“Heh.. .kamu malu ah masak tanya gitu di depan temen kamu”

“Gak apa-apa lah kasian juga kalau kakak pengen ke kamar mandi tapi kakak gak berani bilang. mendingan ditanya dulu”

“Gak kok Gab”

“Ya ampun kalian mesra banget ! aku jadi iri.. kak Najung aku mau donk jadi adeknya juga aku gak punya kakak.”

“Sshhhh….sembarangan aku gak mau punya saudara kamu” jawab Gabriel.

“Kalau gak mau punya saudara aku jadi kakak ipar boleh donk”

“Aduh ni anak agresif banget sich. .” dalam hatiku

“Eh ya sudah kakakku mulai gak nyaman ma kamu kita pulang duluan ya. Dah…….Joshua”

Gabriel membawa aku pulang

Malamnya

Tok…tok…tok…. “Sayang, ibu boleh masuk ?” ibu menemuiku. “Ya bu”. “Gimana acaranya tadi siang ?”. “Asik-asik aja bu”. “Makanya kamu sering-sering aja mau kalau diajak Gabriel !”. “He hem :(” .

“Loh kenapa ekspresinya sedih sayang ? kan habis jalan-jalan”

“Bu kayaknya aku sekarang makin mempertimbangkan apa kata paman. Aku mau ikut dia ke Singapore. Apa tawaran paman udah telat ya bu ?”

“Sayang putri ibu :-)” ibu membelai rambutku. “Belum sayang, paman itu nunggu kamu siap dulu. Paman tahu kamu butuh waktu buat mempersiapkan mental untuk berobat disana”

“Hemmm.. kapan aku bisa kesana ?”

“Kamu serius mau ke Singapore ?”. “Iya bu, aku sudah memikirkannya”. “Kapanpun kamu mau, ayah sama ibu sudah siap sayang buat nganterin kamu kesana”. “Secepatnya bu. Aku mau secepatnya”. “Bagus ! kamu udah bilang Jaesung ?”. “Belum.Aku baru memikirkannya malam ini bu.”

“Ya lebih baik kalau besok pagi kamu kasih tau dia.Kkan dia orang paling berjasa buat kamu. Jangan nunggu lama-lama, pamamu itu antusias banget, jadi pasti prosesnya cepat dan kamu cepet ke Singaporenya juga”

“Ya bu”. “Malam sayang cepat tidur okey.. ibu keluar dulu”. Ibu keluar dari kamarku.

“Iya juga ya, kalau berobat disana pasti prosesnya lama. Pasti lama juga pulangnya. Bakal lama gak ketemu Jaesung juga.” gumamku sebelum tidur

Keesokan harinya

“Hay..  kenapa ngajak ketemu di taman ?” Jaesung menghampiriku saat dia lari pagi. “Ya aku mau memberitahu sesuatu”. “Ap a? sepertinya penting”. “Aku akan ke Singapore. Keputusannya memang mendadak tapi sudah ku pikirkan matang-matang”. Ekspresinya Jaesung tiba-tiba agak aneh. “Kenapa kau berekspresi begitu ?” tanyaku.

“Tidak aku kaget saja. Sudah lama tidak membahas tentang pengobatan kenapa tiba-tiba langsung memutuskan begitu saja ?”. “Aku semakin dewasa Jaesung, ku fikir tidak boleh takut lagi untuk menjalani pengobatan”

“Ya aku tau. Semoga sukses. Selama ini aku juga berharap kau sembuh dan menjadi Najung yang makin sempurna :-)”. “Terima kasih atas doanya Jaesung. Pasti disana aku akan merindukanmu.”. “Aku juga. Pasti akan rindu menggendongmu ke taman ini. “. “He.. Kau mengejekku ?”. “Bukan. Tapi sedang mengeluh siapa yang mendengarkan curhatanku kalau kau tidak ada ? dan Jasson juga pasti akan kehilangan penggemar setianya !”.

“Aku akan kembali kau tenang saja :-)”

= baca lanjutannya =


Terima kasih telah membaca cerita cinta romantis pendek mengenai gadis cacat yang mencintao sahabat sejak kecilnya. Penasaran dengan akhir ceritanya ? baca pada bagian berikutnya << klik disini >>

Dibagikan

Feb Lis Sof

Penulis :

You may also like