Untuk Apa ?

cerpen selingkuh berakhir perceraian

Untuk apa adalah sebuah cerpen selingkuh berakhir perceraian walaupun pernikahan mereka belum genap satu tahun yang seharusnya lagi lucu-lucunya. Bagaimana kisah mereka ? simak pada cerita pendek perselingkuhan berikut :

Cerpen Selingkuh Berakhir Perceraian – Untuk Apa ?

“Saya terima nikahnya dengan maskawin tersebut dibayar tunai,” ucapmu di depan penghulu dua tahun yang lalu. Kalimat itu sungguh masih terngiang di telingaku. Disaksikan oleh gerimis yang ritmis seolah turut merekam moment yang sakral itu, ketika aku dan kamu akan segera menjadi kita. Kita dalam sebuah ikatan yang suci. Ikatan yang akan menamai aku sebagai istri dan menamai kamu sebagai suami.

“Hhhhhhhh …,” Aku menghela nafas ketika tengah memandangi album yang berisi foto-foto pernikahan kita.

Semua masih kusimpan dengan rapi. Namun, sedikit berdebu sampul albumnya karena telah lama jarang kubuka lagi.

Malam pertama

Malam ini, malam pertama kita. Sekaligus menjadi malam yang paling bersejarah dalam hidupku. Malam ini pertama kalinya kurasakan sentuhan lembutmu yang perlahan mendarat dari ujung rambutku hingga ujung kakiku. Aku sungguh tak kuasa menahan hasrat yang berkecamuk di rongga dada. Membuat aliran darahku terasa mengalir lebih cepat.

“Aku malu, Mas,” kataku pelan sambil menundukkan kepala.

“Masya Allah, dik kamu lucu. Mengapa kamu malu dengan suamimu sendiri.” Kamu berbisik mesra, sesekali jemarimu membelai rambutku yang kubiarkan terurai.

Bisikmu itu membuatku semakin tak tahan ingin menumpahkan segala rasa ini kepadamu.

Malam ini sikap dan tutur katamu sangat lembut kepadaku, sehingga membuatku semakin terpesona dengan sosokmu. Tatapanmu yang menyejukkan dan gingsulmu itu menambah kadar manis pada simpul senyummu yang seketika mulai membiusku. Malam ini aku pun tenggelam dalam dekapmu yang amat mendamaikan.

Pagi pertama, bangun kesiangan

Pagi pertamaku hidup bersamamu. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan dan melayani segala kebutuhanmu. Ya, karena sejak semua saksi serempak mengatakan “sah” di depan penghulu aku adalah seorang istri bagimu. Harapanku hal ini akan berlaku sampai pagi berikutnya, seterusnya dan sampai kapanpun hingga maut memisahkan kita.

“Bangun sayang sudah pagi,” ujarku sambil menyibak tirai jendela.

Ku pandangi wajahmu yang sangat polos seperti tanpa dosa, aku suka memandangi wajahmu ketika kamu sedang tertidur seperti ini. Rupanya kamu masih tertidur pulas. Mungkin kamu kelelahan karena acara kemarin. Aku masih terus memandangimu dengan kedua tanganku yang menopang dagu. Tak lama kemudian kukecup pelan pipimu. Dan akhirnya kamu pun terbangun kemudian tersenyum sambil mengelus rambutku dengan lembut.

“Bangun sayangku, buruan cuci muka dan aku akan siapkan sarapan untuk kita,” ucapku sambil memegangi tangan suamiku yang masih saja mengelus rambutku. Lalu aku beranjak ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi hitam kesukaan suamiku. Di hari seterusnya pun aku akan tetap begitu, sebagai istrimu juga teman hidupmu aku siap melayanimu.

Enam bulan pernikahan, suami mulai berubah

Tak terasa ternyata usia pernikahan kita sudah berjalan hampir 6 bulan. Aku sangat bahagia karena selama hampir 6 bulan itu hubungan kita masih harmonis dan baik-baik saja.

Setiap hari, sebelum berangkat kerja sampai dengan sepulang  kerja kamu selalu mengecup keningku dan mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang. Dan setiap hari perlakuanmu tetap sama tak ada yang berubah. Namun, itu adalah sikapmu di hari-hari yang lalu ketika kamu masih lembut dan mesra kepadaku sama seperti saat pertama kali kamu menyentuhku di malam pertama kita. Entah mengapa, akhir-akhir ini seperti ada yang mengganjal di benakku tentang sikap dan tingkah lakumu.

“Aku gak boleh su’udzon sama suamiku sendiri,” ucapku berbisik.

Akan tetapi naluri seorang istri tetap tak ingin dibohongi. Sebagai seorang istri juga seorang perempuan yang selalu mengedepankan perasaan daripada logika, sangat mudah sekali merasakan sesuatu yang berubah dari suaminya sekalipun perubahan itu masih belum begitu nampak. Belakangan ini suamiku lebih suka menyendiri. Setiap aku berusaha mendekatinya, ia justru menghindar. Belakangan ini ku perhatikan ia sibuk dengan ponselnya, bahkan ke kamar kecil saja ia tetap akan membawa ponselnya. Memang, semenjak aku menikah dengannya, aku tak pernah lagi memeriksa ponsel suamiku. Berbeda waktu dulu ketika aku masih pacaran dengannya. Ya, aku sendiri juga sibuk dengan pekerjaan rumah dan sibuk untuk melayani segala kebutuhannya.

“Ada apa dengan ponselmu, Mas. Belakangan ini kamu terlihat sibuk dengan ponselmu bahkan sampai-sampai tak menghiraukan aku ada di sampingmu,” gerutuku sambil membereskan meja makan malam itu.

“Biasa masalah pekerjaan dan client,” jawabmu santai menanggapi gerutuku.

“Masa iya hampir setiap hari ada masalah dengan pekerjaanmu,” tukasku terhadap suamiku sambil sesekali menatapnya dengan tatapan penuh curiga.

Kamu hanya sesekali melirikku tak bergeming. Aku mengenalmu sudah hampir satu tahun, jadi aku tahu betul ketika kamu tak lagi berkata jujur kepadaku. Kamu seperti sedang berusaha berkilah.

“Jadi apa yang kamu sembunyikan, Mas?” Hatiku terus bertanya-tanya.

Malam itu aku masih saja meneruskan ocehan-ocehanku yang aku rasa akan membuat telingamu semakin gatal. Seperti biasanya jika aku sudah mulai menggerutu, kamu hanya diam lalu beranjak pergi tanpa memikirkan perasaanku.

Kita sudah menjalani kehidupan rumah tangga ini hampir 6 bulan, bukan baru kemarin sore, tetapi mengapa kamu tak pernah memahami mauku juga perasaanku, padahal aku selalu berusaha untuk memahami inginmu, maumu bahkan perasaanmu.

Ngintip chattingan suami

Pagi itu seperti biasanya suamiku masih terlelap belum bangun dari tidurnya, aku memang sengaja tak membangunkannya karena aku sungguh sangat penasaran dan ingin mengetahui isi ponsel suamiku. Tadinya aku berniat mengurungkan rencanaku untuk memeriksa ponsel suamiku. Namun, niatku itu terkalahkan oleh rasa penasaranku. Akhirnya kuputuskan untuk mencari ponsel suamiku dan memeriksanya. Dengan dipenuhi rasa setengah ragu dan gelisah yang mulai gaduh di sanubariku.

Akupun mulai membuka isi obrolan di salah satu aplikasi chat yang ada di ponsel suamiku. Dengan tatapan nanar aku menemukan satu chat yang menurutku isi obrolannya sudah kelewat batas. Aku hanya terpaku, menjahit mulutku dengan diam. Aku tak ingin salah paham dengan suamiku sebelum ada penjelasan.

Ku siapkan sarapan dan secangkir kopi hitam seperti biasanya. Pagi itu aku hanya diam, kamu pun juga sama diamnya. Entahlah, memang sejak dua minggu yang lalu kamu sudah enggan mengajakku bicara bahkan kamu yang sekarang tidak pernah mengajakku becanda di sela-sela waktu luangmu. Kamu memilih sibuk dengan ponselmu.

Sampai seminggu berlalu, aku masih sanggup menahan gelisah dan cemburuku tentang isi chat yang aku temukan di ponsel suamiku. Aku membiarkan gelisahku semakin membuncah di sanubari. Namun, hari ini aku sudah sangat tak tahan lagi.

“Aku harus berani menanyakan soal ini kepada suamiku,” kataku pelan sambil menyeka air mataku yang sudah memenuhi kelopak mataku agar tak jatuh begitu saja.

Akhirnya gak tahan lagi, kecemburuan ini harus diklarifikasi

Sore itu sepulang kerja, aku menyambutnya seperti biasanya, namun lagi-lagi suamiku mengabaikan aku.

“Aku sangat lelah, aku ingin mandi,” katamu dengan cepat sambil berjalan menuju kamar untuk meletakkan tas kerjamu.

Aku hanya terdiam, menungguimu di depan TV karena setelah suamiku selesai mandi aku akan segera menanyainya soal isi chat yang aku temukan di ponsel suamiku seminggu yang lalu. Setelah panjang lebar kita berbicara ujungnya-ujungnya kita berdebat dan bertengkar hebat.

“Maafkan aku, aku akan segera menceraikanmu karena sebagai istri kamu sudah lancang membuka ponselku tanpa izin, dan kurasa telah pudar perasaan cintaku kepadamu.”

“Dan chat yang kamu baca seminggu yang lalu adalah chat dari mantan kekasihku dan harus kuakui ternyata aku masih mencintainya.” Begitu jawabmu dengan nada bicara tinggi sambil menggebrak meja.

Jawabanmu itu adalah jawaban yang paling memporak porandakan seluruh jiwaku.

Aku tak sanggup menahan isak tangis yang kian menjadi. Rasanya baru akan mulai ranum kehidupan rumah tangga ini dengan suamiku, kini sudah hancur berserakan. Aku tak akan menyalahkan perempuan itu, aku juga tak akan menyalahkan suamiku. Mungkin saja ini sudah suratan takdirku. Lalu, mengapa takdirku teramat menyakitkan, bagai tersayat tujuh mata pisau secara bersamaan. Menghujam ke dalam relung-relung hati bagai teriris sembilu terasa perih, tapi tak berdarah. Yang kurasakan saat itu hanya ingin menangis saja. Apa salahku? Di mana kurangku?

Akhir kisah pernikahan singkat

Malam selanjutnya aku bersikap dingin kepada suamiku. Hal itu aku lakukan karena aku sendiri tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku masih berusaha melayaninya, karena secara hukum ia masih sah sebagai suamiku.

“Aku ingin menikahi mantan kekasihku, Dik, aku mencintainya. Maafkan aku, kemarin aku sangat marah kepadamu, sehingga tak bisa mengendalikan amarahku. Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Dik,” rengekmu  seperti anak kecil minta jajan dengan wajah memohon memegangi tanganku.

Aku hanya diam tak menjawab sepatah katapun. Rasanya seperti mau pecah pembuluh darahku mendengar rengekanmu itu. Kamu seperti tidak berperasaan. Aku ini istrimu dan aku ini juga perempuan yang mudah rapuh hatinya.

“Di mana nuranimu, Mas,” batinku berkata.

Istri mana yang rela berbagi suami dengan perempuan lain. Kamu milikku. Begitu pula denganku semua adalah milikmu saja. Aku tak ingin berbagi dengan siapapun. Mungkinkah cintaku ini mulai egois.

“Tidak! Aku tidak mau dimadu, Mas. Lebih baik kamu ceraikan aku saja seperti ucapanmu kemarin, daripada aku harus melihatmu berbagi kasih dengan mantan kekasihmu itu. Aku tak sanggup, Mas,” ujarku dengan nada terbata menahan isak tangis yang akan meledak sesaat lagi.

Kamu pun menyetujuinya, besoknya kamu pergi ke Pengadilan Agama untuk mengurus surat perceraian kita. Semudah itu kamu melepaskan sesuatu yang sudah tergenggam hanya karena keindahan lain. Untuk apa dulu kamu mengikatku dengan janji suci jika pada akhirnya aku hanya akan kamu lepaskan semudah melepas capung dalam genggaman.


Terima kasih telah membaca curhatan dalam cerpen selingkuh berakhir perceraian. Semoga cerita pendek perselingkuhan diatas dapat bermanfaat dan menghibur. Tetaplah semangat dan optimis dalam menghadapi segala persoalan hidup. Jadikan setiap masalah yang kita hadapi sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk mencapai kesuksesan sejati.

Dibagikan

Artikel terkait